Bromo!! Bagi sebagian orang apalagi yang berdomisili di Jawa Timur merupakan gunung yang mungkin sudah biasa mereka kunjungi. Tapi masih ada juga yang belum pernah memusatkan pandangannya ke Bromo sampai saat ini. Apalagi bagi masyarakat luar Jawa Timur, pasti Gunung Bromo merupakan tempat impian yang menjadi agenda wajib untuk berpetualang. Pasir, kabut, fajar, terik, aroma semua tentang Bromo tak mudah dilupakan. Pesonanya tetap indah meskipun selang 4 tahun tidak mengunjungi Bromo. Dari Bromo yang masih tenang-tenang saja sampai Bromo erupsi, Bromo tetap menyajikan alamnya yang menjadi paradise nya sang petualang.

Kisah ini dimulai pada malam kepulanganku dari luar Jawa. Aku dan dia langsung go ke Bromo. Lelah? Sudah biarkan saja, kami sudah merindu dengan Bromo. Kata partner-ku meskipun ini adalah perjalanan kesekiannya, tapi dia tetap tak pernah bosan dengan Bromo. Pertengahan malam kami menyusuri jalanan sepi ,menuju penanjakan Bromo, mungkin ada beberapa kendaraan yang mengikuti arah kami. Tapi tak cukup banyak. Sungguh kuasa Sang Pencipta yang menciptakan Bromo dengan sangat menakjubkan. Bagaimana tidak, sebelum sampai titik tujuan, setiap jalan yang kami lewati diikuti oleh bintang-bintang yang bertaburan dilangit. Entah diikuti atau mengikuti bintang, ketakutanku malam itu berubah menjadi kagum dengan sang alam malam. Suasana hening nan tenang menjadi sahabat kami di perjalanan. Namun saat itu kendaraan kami ada sedikit masalah. Tapi meskipun begitu, kami tetap berusaha untuk mencapai penanjakan Bromo.

Sesampainya di Penanjakan Bromo, kami disambut dingin khas Gunung Bromo. Benar-benar dingin menurutku. Mataku dan semua pengunjung saat itu tertuju pada satu arah yaitu arah matahari terbit. Setiap detiknya kami berusaha mengabadikan moment dengan pemandangan yang menakjubkan. Siangnya kami lanjut ke kawah gunung Bromo. Aku heran, dari kemarin sampai pada saat itu kami sama sekali tidak merasa lelah maupun mengantuk. Padahal aku dan partner-ku hanya tidur kurang lebih 10 menit. Sesampainya di puncak dengan menyusuri tangga. Kami mengenang 4 tahun yang lalu. Iya Bromo sangat berbeda, apalagi saat itu kabut pasir tebal Gunung Bromo menambah kesan yang beda dengan 4 tahun yang lalu. Kabut itu menurutku menyimpan sebuah rahasia, rahasia yang menakjubkan seperti sebuah istana di dalamnya, Gunung Bromo sangat megah.

Sejuta pesonanya, begitu pula misterinya, sebut saja Gunung Bromo. Ditengah perjalanan pulang melewati rute yang berbeda saat keberangkatan kami. partner-ku merasa aneh dengan sikapku yang tiba-tiba menjadi pendiam. Disitu aku merasa mengantuk yang luar biasa. Tetapi anehnya aku seperti bicara sendiri, setelah itu aku lupa aku bicara apa. Itu membuatku sangat bingung. Akhirnya kami menghentikan perjalanan untuk sholat dzuhur di mushola Pom Bensin yang masih belum jauh dari lokasi gunung Bromo. Disitu partnerku bertanya sebenarnya ada apa denganku. Namun aku tak mengucapkan apa apa untuk menjawab tanyanya. Aku hanya berkata “Ayo balik ke Bromo!” dengan suara yang sangat lembut dan senyum yang penuh misteri.

Partner-ku sangat kaget dengan jawabanku, dia yakin bahwa itu bukan aku. Tapi dia masih berpikir positif, mungkin aku kelelahan. Akhirnya partner-ku meminta agar aku tidur di mushola tersebut. Dan ketika tidur.. dengan suara yang sangat lirih, tiba-tiba aku menyanyikan lagu “gambang suling”……

 

Penulis : Lutfi Apriani

Ig : @lutfi apriani

Loc : Gunung Bromo

Foto by : @pujasakti