Lingkarmalang.com , Wayang Suket – Bukan tak mungkin jika berada di bawah jalur mahasiswa akan tertular kecanggihan otak yang dimiliki para pelintas. Memang sangat non ilmiah peristiwa tersebut, namun hal memang terjadi di bawah jembatan Jalan Suhat. Di bawah jembatan yang menjadi jalur utama para calon sarjana untuk sekedar ngopi atau berangkat kuliah tersebut ada salah seorang seniman canggih. Dapat dikatakan canggih karena seniman ini memiliki metode mutakhir untuk melestarikan budaya. Insan yang memiliki rumah tepat di bawah balai RW tersebut bernama Syamsul Subakri alias Kardjo.

Julukan tersebut merupakan padu padan kata yang tak hanya muncul bergitu saja, pasalnya KARDJO merupakan kependekan dari Konservasi Asli Rakyat Diluar Jaringan Organisasi. Dari nama yang disematkan telah jelas memang pengusung wayang suket ini pernah menjadi seorang aktivis di bidang konservasi. Organisasi yang pernah ia ikuti dahulu bernama konservasi satwa bagi lingkungan (KSBK) yang kini menjadi Profauna. Dari sanalah semua berawal yang seakan menjadi kombinasi pas antara kesenian dan konservasi.

Tak hanya wayang suket yang terbuat dari rumput yang lumrah disebut mendong, dahulu pria yang akrab disapa Mbah Jo meskipun masih belum tua ini pernah membuat wayang dari plastik. Tak lain hanya untuk mencurahkan kreatifitasnya yang berujung pada konservasi. bagi nawak-nawak lingkar malang yang masih awam dengan wayang dapat pula sekedar bercengkrama dengan mbah jo ini.

Karakter yang gayeng khas masyarakat pedesaaan ini masih melekat di sosok Mbah Jo. Bahkan untuk sekedar request untuk membuat panggung dadakan pria yang tidak muda lagi ini dapat memnyajikan untuk para tamu. Dengan kacamata bulat lincah matanya menegaskan bahwa pria satu ini memang cerdas dalam bersastra. Pagelaran yang tak biasa pun tersaji seakan sudah di siapkan jauh-jauh hari.

Kebanyakan pagelaran yang di tampilkan oleh Mbah Jo terinspirasi dari para audiens. Ibarat materi yang di garap dadakan namun menjadi cermin para audiens. Jika para nawak-nawak lingkar malang menyaksikan pagelaran wayang kulit pasti akan memakan waktu yang lama namun jika menyaksikan wayang suket ini dapat berpesan berapa menit durasi yang diberikan. Untuk personil musik pengiringnya pun tak harus seperti wayang pada umumnya. Yang penting materinya tersampaikan itulah tujuan beliau mengadakan sebuah pagelaran. (Rohman)