Lingkarmalang.com, Gondanglegi – Sentra kerajinan di Malang tak melulu membuat barang-barang seni yang sarat akan nilai estetika saja. Tapi juga ada sentra kerajinan yang memang merupakan kebutuhan masyarakat. Seperti sentra kerajinan bata merah yang ada di Desa Urek-Urek Kecamatan Gondanglegi ini.

Layaknya sentra kerajinan yang memiliki produk sama. Di desa ini memiliki satu produk yaitu bata merah. Bata yang masih bertahan sebagai bahan dasar konstruksi ini masih dibuat secara tradisional. Dengan cara mencetak tanah liat seukuran batu bata dan menjemurnya.

Setelah dijemur, tanah tersebut dimasukkan ke tungku pembakaran yang terbuat dari tanah juga. Maka dari itu hampir setiap rumah di desa ini memiliki tungku pembakaran dan lahan luas untuk menjemur bata. Durasi pembuatan yang lumayan lama tersebut menjadikan jaminan. Jika anda ke sini kapanpun pasti akan menemukan kegiatan produksi batu bata. Tak terkecuali pada malam hari, cukup mencari asap yang sedang mengepul untuk menjadi tanda adanya kegiatan produksi.

Ada sebuah mitos terkait pembakaran batu bata pada malam hari. Mitos tersebut mengatakan bahwa untuk menjaga nyala api yang berasal dari kayu bakar stabil membutuhkan kekuatan gaib. Biasanya penjaga tungku tersebut mengajak Gendruwo untuk menjaga nyala api. Kehadiran Gendruwo tersebut ditandai dengan aroma singkong bakar yang menyengat. Setelah Gendruwo tersebut datang maka dipastikan nyala api akan stabil sampai pagi.

Terlepas dari mitos tersebut agaknya produksi batu bata ini sudah membantu perekonomian warga sekitar. Pekerjaan warga pun tidak jauh dari proses produksi tersebut. Entah itu menjual kayu bakar, sopir truk untuk mengangkut batu bata, atau menjual peralatan produksi seperti spanduk untuk menjemur tanah liat. Tertarik untuk berkunjung? Jangan sampai kunjungan anda bertepatan saat hujan. Karena proses menjemur dengan ciri khas desa ini akan berhenti waktu hujan.