Lingkarmalang.com, Tengger Bromo – Ada yang menarik selain membicarakn Gunung Bromo dari segi keindahan alamnya, konon di sekeliling gunung yang namanya sudah masyhur di kalangan para traveller ini terdapat sebuah suku yang kuat dengan budaya dan kepercayaannya, suku ini bernama Tengger. segala keunikan dan kisah tentang Tengger akan coba dikulik lebih dalam di artikel yang redaksi Lingkar Malang sajikan kali ini

Sarung Bukan Sekedar Sarung

Satu hal paling mudah yang dapat membedakan warga Tengger dengan warga desa lainnya adalah sarung. Warga disini tak pernah lepas dari kain sarung yang melilit di tubuhnya. Bukan layaknya sarung biasa, sarung warga tengger ini terbuat dari tenunan khas Tengger sehingga yang memakainya akan terlindung dari dinginnya hawa Gunung Bromo.

Bahasa Ditengah Bahasa

Walau suku Tengger ini berada di Pulau Jawa dan letaknya pun diapit oleh kota-kota yang mayoritas memakai bahasa Jawa dan Madura (probolinggo).  Namun warga suku Tengger ini mempunyai bahasa sendiri. Beberapa tokoh adat bahkan mengatakan bila sebenarnya warga suku Tengger ini menggunakan bahasa Kawi, dan masih banyak mempertahankan bahasa jawa kuno yang hampir punah dan sudah jarang sekali digunakan oleh masyarakat Jawa pada umumnya.

Upacara Adat

Selayaknya sebuah suku yang masih kental dengan budaya dan kepercayaan leluhur, suku Tengger tak pernah sepi dalam menyelenggarakan upacara adat. Bahkan tiap tahun, wisatawan selalu memenuhi area Bromo untuk menyaksikan dihelatnya upacara Kasada. 

Upacarara Kasada adalah upacara untuk memperingati pengorbanan Raden Kusuma Putra (putra bungsu dari Roro Anteng dan Joko Seger, asal mula nama Tengger)  yang menyelamatkan warga Tengger dari musibah dengan cara menerjunkan dirinya ke kawah Gunung Bromo. Selain upacara Kasada yang selalu ditunggu masih ada pula berbagai upacara seperti upacara Karo, Upacara Megeng Dukun,Upacara Mayu Desa, Upacara Unan-unan dan masih banyak lagi upacara adat yang selalu diramaikan dan diikuti oleh warga Tengger.

Bromo dan Tengger

Yang patut ditiru dari kearifan warga lokal di Bromo adalah mereka sangat menghargai alam dan sangat berusaha untuk menjaganya. Itulah sebabnya ada beberapa upacara yang  mempunyai tujuan untuk mengungkapkan rasa syukur tentang anugerah yang diberikan sang kuasa melalui alam dan hasil dari alam. Selain itu, sebagian warga di Bromo juga menggantungkan hidupnya dari gunung gagah yang tak lelah mengundang wisatawan ini. Sebagian besar dari warga Tengger hidup dengan mengandalkan sektor wisata, yaitu mulai dari jasa transportasi jeep, jasa sewa kuda hingga rumah makan dan home stay.

Tengger bisa dikatakan suku yang masih bertahan menjaga tradisi di tengah hiruk pikuk budaya Kota yang menyerbu dan virus kemajuan teknologi yang membius. Tengger sekarang adalah Tengger yang dulu dan yang akan datang, kemajuan hanya membawa pola pikir warga Tengger yang semakin berkembang, namun bila bicara tentang budaya dan adat selamanya akan menjadi pedoman warga Tengger yang tak akan tergoyah. (Tiko)