LINGKARMALANG – Buku adalah jendela dunia, kata ini  adalah kata yang sudah sangat umum diucapkan oleh semua orang. Namun pernahkah kita berbuat sesuatu untuk mengaplikasikannya? Sebuah desa yang cukup jauh dari bisingnya kota bernama Kampung Busu mencoba menjawab pertanyaan di atas.  Kondisi yang memprihatinkan karena jumlah siswa putus sekolah di tingkat Sekolah Dasar menjadi perhatian beberapa pemuda yang tergabung dalam Paguyuban Arek Busu atau sering disingkat sebagai PAB.

Tercatat pada 15 Juli, bersamaaan dengan acara halal bihalal desa Busu, disresmikanlah sebuah taman baca bernama Pustaka Kampung Treteg. Taman baca ini bertempat di kediaman mas Wahyu Widodo atau yang kerap disapa ember, seorang warga asli Busu yang juga sudah lama berkecimpung di dunia literasi. Konsep menggalakkan membaca untuk anak-anak usia Sekolah dasar ini sebenarnya sudah lama dipraktekkan oleh komunitas PAB hanya dulu berbentuk perpustakaan keliling. Karena terkendala tidak adanya basecamp dan sarana prasarana yang mendukung lainnya.

Mengusung semangat gotong royong, Paguyuban Arek Busu tak mau tunduk dengan keadaan. dengan kondisi seadanya, Pustaka Kampung Treteg ini didirikan menumpang sebagian rumah warga, dan buku yang tersedia juga didapat dari hasil donasi anggota yang bekerja sebagai penjual buku. Walau begitu, Api semangat yang membakar warga Busu tak akan kunjung padam, bukan main-main target terdekat yang ingin dicapai adalah merubah pola pikir warga desa bahwa sekolah itu tak kalah penting dari membantu orang tua bekerja. Sedangkan target jangka panjangnya adalah membangun Desa Busu menjadi lebih maju dimulai dengan sumber daya manusianya yang melek Pendidikan.

Bagi sebagian orang yang terlena hidup di kota termasuk saya, kondisi ini adalah sebuah lecutan, bahwa ternyata jauh di pelosok desa masih ada  sekelompok pemuda yang lebih memilih menjadi bermakna untuk warga desanya dibanding berhura-hura menikmati gemerlapnya kota tercinta. (Kartiko.P)