Lingkarmalang, Kota Malang – Malang Tempo dulu memang memberikan kesan tersendiri, ibarat hal yang menjadi khas di kota bunga ini hilangpun akan di cari. Kali ini malang tempo dulu menjadi tombo kangen bagi penggiat wisata budaya, tradisi dan fotografi. Pada tanggal 12 November 2017 tergelar sudah rangkaian acara Malang Tempo Doeloe dengan tajuk klapa jadi apa seharian penuh. Seakan seorang anak yang ditinggal ayahnya tepat di hari ayah tersebut warga kota dingin malang bersuka ria dengan konsep klapa jadi apa tersebut.

Acara yang dibuka dengan marut klapa bersama beberapa pejabat pemerintahan kota malang maupun pemerintahan pusat yang diwakili oleh Menteri Dikbud Muhadjir Efendi membuat kemeriahan tersendiri. Pasalnya para pejabat tersebut ikut merayakan dengan me-marut kelapa yang sudah disiapkan oleh panitia. Seakan menjadi pembukaan yang unik bagi sebuah gelaran yang sudah libur selama empat tahun.

Tak hanya pembukaan yang meriah berhias para pejabat, pada inti acarapun seakan kemeriahan enggan untuk berpindah. Jajaran penjaja dengan pakaian kuno menghiasi stand-stand yang disediakan panitia. Stand yang kebanyakan berasal dari sekolah-sekolah dan instansi pemerintahan tersebut seakan enggan untuk berpangku tangan dan menunggu pengunjung. Ada yang teriak-teriak ada yang menghadirkan konsep pakaian yang berbeda, ada pula yang menjajakan dagangan yang berbeda. Seakan pasar tempo doeloe sudah hadir di sekeliling simpang balapan. Tak melulu berjualan ada pula yang hanya memamerkan barang-barang antik yang menjadi koleksi sebuah komunitas, instansi dan pribadi.

Mungkin hal ini terjadi karena adanya konsep dan beberapa himbauan yang sempat menghiasi media-media lokal sebelum diadakannya event tersebut. Adanya himbauan bahwa pengunjung harus mengenakan pakaian tempo dulu untuk masuk ke kawasan Malang Tempo Doeloe, membantu menghadirkan sensasi pasar tempo dulu di tengah era modernisasi.

Tak cukup sampai sana, beberapa sajian panggung hiburan yang ada di dua titik lokasi juga berkontribusi dalam mengahdirkan sensasi tadi. Musik yang di putar sekelas keroncong, karawitan dan musik-musik jadul lainnya pula sangat mendukung untuk diperdengarkan dalam situasi pada hari minggu tersebut.