pusakaindonesia.perpusnas.go.id

Belum genap dua tahun masyarakat kota Malang menikmati euphoria kemerdekaan replubik Indonesia, belum genap dua tahun pula teks proklamasi dikumandangkan dengan gagah di jalan pegangsaan Timur Jakarta. Warga malang sudah dihadapkan kembali dengan permasalahan yang menyangkut harkat dan martabat negara pada umumnya dan harga diri Kota Malang pada khususnya. Berita hadirnya kembali pasukan Belanda dengan tujuan menduduki daerah—daerah strategis di Indonesia santer menerpa kuping para pejuang yang menghuni Kota Malang.

Dalam agresi militer I, Belanda mencoba merebut kembali kemerdekaan yang sudah dipegang oleh Indonesia. Belanda berencana menduduki beberapa Kota yang dinilai strategis dalam hal pemerintahan dan pertahanan. Fokus penyerangan Belanda saat itu adalah Jawa tengah, Jawa Barat dan Jawa Timur. Kota Malang yang terkenal dengan pertahanan militernya pun turut menjadi mangsa pasukan khusus Belanda yang bernama Korps Speciale Trepen (KST)

Pejuang – pejuang pemberani Kota Malang tak gentar dengan kekuatan tersebut. Pasukan yang dipimpin Hamid Roesdi bersama dengan rakyat bahu – membahu menghadang pasukan Belanda dengan cara membakar lebih dari seribu bangunan – bangunan kolonial yang awalnya digunakan sebagai sarana infrastruktur sebelum Belanda datang. Tepat pada tanggal 31 Juli 1947 pecahlah pertempuran hebat yang menewaskan banyak korban dari kedua belah pihak dalam perang yang hanya berjalan selama setengah hari.

Walaupun kisahnya tidak se santer Bandung lautan api, kisah Malang Bumi Hangus ini masih sering dibahas oleh para pemerhati sejarah Kota Malang. Namun sayangnya catatan ini tidak pernah tercatat dalam buku sejarah di bangku sekolahan. Sehingga banyak dari warga Malang sendiri yang tidak mengetahui kisah heroik para pejuang yang berani mempertaruhkan nyawanya dalam membela Kota tercintanya.

Alangkah indahnya apabila pemerintah Kota Malang ke depan melalui dinas pariwisata bisa mengenalkan sejarah ini kepada para wisatawan yang hadir ke Malang. Salah satu cara yang paling mudah adalah menceritakan kisah ini melalui bis wsiata milik Kota Malang yang beroprasi melewati bangunan-bangunan yang dahulunya pernah di bumi haguskan oleh para pejuang pendahulu kita.