Lingkarmalang.com, Sate Kelinci – Sate merupakan makanan yang pantas dimasukkan sebagai makanan enak di negara seluas Indonesia ini. Tak melulu dengan sejarah panjang yang melekat pada penamaan sate yang notabene dinamakan karena satu tusuknya berisi tiga daging. Melainkan rasa dan jenis sate yang semakin memasuki era perang inovasi ini semakin beragam. Mulai dari inovasi bumbu, resep, penyajian sampai pada daging yang diolah.

Seperti layaknya pengusaha di bisnis lain, rasanya bisnis persatean pula ingin memberikan sebuah sentuhan khusus. Selain untuk mendapatkan label ciri khas, para bussinesman juga ingin berkontribusi untuk membantu pemerintah. Salah satu contoh usahawan di bidang kuliner Kota Batu yang mencoba untuk memberikan alternatif sate kelinci. Seakan memberikan jawaban kelangkaan daging kambing yang biasanya naik pada hari-hari menjelang hari raya Idul Adha. Mencoba untuk membelokkan tren yang sudah menjadi kelumrahan di lidah para pelanggan.

Awal mula kedatangan sate kelinci di Kota Batu sebetulnya sudah jauh sebelum sempol mulai dijual di kota bunga. Bahkan bisa dikatakan kedatangan olahan sate kelinci ini mendahului adanya Bianglala di tengah alun-alun Batu. Pada awal tahun 2000 ada beberapa restoran yang menyajikan sate dari daging kelinci. Sekitar 2-3 restoran yang bertempat di sepanjang Jl. Ir. Soekarno sukses memberikan kesan pada lidah para pengunjung. Entah memang mereka melakukan promosi yang mati-matian atau karena nasib baik. Karena di Jl. Ir. Soekarno ini biasanya macet, bisa saja para korban kemacetan secara iseng membelokkan kendaraannya ke restoran tersebut.

Berawal dari hal itu pula mulai banyak pengusaha lain yang melirik sate ini tak hanya bisnis mahal. Namun bisnis yang bisa di tawarkan kepada pengunjung kota wisata batu yang berkantong cekak. Maka dari itu hadirlah mas-mas penjual sate yang berusaha untuk menjemput bola turun ke pinggiran jalan. Maka dari itu akhir-akhir ini mulai merebak penjual sate kelinci di pinggiran alun-alun Batu pada malam hari. Seakan-akan penjual jagung keju yang dahulu sempat membanjiri alun-alun kota batu alih profesi menjadi penjual sate kelinci. Mungkin nantinya sate kelinci ini dapat menjadi ciri khas tersendiri bagi kota batu di mata para pengunjung. (Pungkas)