We live in a wonderful world that full of beauty, charm, and adventure. There is no end to the adventures that we can have if only we seek them with our eyes open. -Jawahahral Nehru

Deretan kalimat syukur mengiringi setiap kata yang mampu disajikan dalam tulisan ini. Entah pantas kusebut apa pemandangan yang indahnya layak diucap sebagai surga kedua. Adakah sebutan lain yang layak disandangkan untuknya? Jika jepang punya Aogashima sebagai wisata andalannya, atau Colorando Plateau sebagai kebanggaan Arizona, serta China yang memiliki Zhangjiajaie Stone Forest sebagai salah satu tempat terindah di dunia, maka Indonesia menampilkan Bromo Tengger Semeru sebagai objek wisata yang mampu disejajarkan dengan tempat terindah lainnya di dunia. Tak berlebihan jika kusebutkan demikian, karena pada kenyataannya, ada sesuatu hal yang menarikku kembali pada tempat ini, mungkin pesonanya, keramahannya atau karena cantik parasnya. Jika banyak orang bilang bahwa tuhan menciptakan pelangi kala Ia tersenyum, maka sama halnya dengan Gunung Bromo, Tuhan menciptakannya ketika sedang berbahagia, yup, mahakarya Tuhan yang luar biasa.

Hai ngalamers, perkenalkan aku salah satu di antara ribuan mahasiswa luar daerah yang ikut menyumbangkan kemacetan di Malang Raya. Tentu pula karena hal itu, aku sibuk mencicipi berbagai wisata yang ditawarkan kota bunga ini yang tentunya tidak terdapat di tempat aku berasal. Sebenarnya perkenalanku dengan tempat wisata yang satu ini (Read: Bromo) tidak begitu baik, tidak  se-menyenangkan perkenalan dengan gebetan yang baru jalan langsung jadian. Faktanya, kunjungan pertama kali, kami terpaksa berkencan dengan lautan pasir dengan suhu ekstra dingin karena sepertinya salah memilih jalur. Hanya bermodal motor bebek plus tekad yang kuat karena penasaran dan sudah setengah jalan kami lanjutkan hingga sampai di tempat yang biasa disebut pananjakan. Di tempat ini, kita bisa melihat Gunung Bromo dan sekitarnya dari atas, sepertinya cukup menarik. Ketika sampai di tempat parkir dan aneka kios penduduk lokal aku kira selesai sudah perjuangan ini, ah ternyata belum merdeka rupanya, kami harus berjalan menanjak untuk sampai di spot yang diinginkan. Beberapa menit kemudian, langit bersolek dengan cantiknya, cahaya jingga mulai menghiasi alam dengan indahnya. Kabut yang menyelimuti Gunung Bromo terlihat bak awan yang beriringan. Oh Tuhan, begitu indah ciptaanmu yang kau lukiskan dengan syairMu.

Jika hati sudah terikat, apa daya jika diri ini enggan untuk berpaling. Ah, ternyata yang namanya moveon itu susah ya, apa pun bentuknya. Tak selamanya inti dari perjalanan adalah proses, kadang kala kita harus melihat bagaimana hasilnya. Semua perjalanan mengajarkan pembelajaran, entah bagaimana pun itu. Kita hanya harus meyakini bahwa keindahan tak selamanya diperoleh dengan cara yang diinginkan, karena bisa saja dari cara-cara yang tidak terpikirkan dan di luar dugaan. Gunung Bromo, Gunung aktif nan cantik yang membuat siapa saja tak sungkan untuk datang dan datang lagi. Sejak kunjungan pertama, terhitung sudah empat kali kaki ini menjamahnya. Kapan lagi menginjakkan kaki dibumi tetapi berasa seperti dilangit. Tak hanya pananjakan, kawasan sekeliling Gunung Bromo menjadi destinasi tujuan yang diidamkan banyak orang. Pasir berbisik dan bukit teletubis misalnya. Kawasan ini sering menjadi tujuan wisata serta tempat ber-selfie ria. Pasir berbisik dengan padang pasirnya yang begitu luas serta bukit teletubis yang berupa kumpulan bukit hijau serta tebing indah disekelilingnya. Cantik, indah dan tak terlupakan.

Cukup banyak review tersedia yang bisa kalian baca jika ingin menjadikan tempat ini sebagai referensi liburan andalan jika kalian sedang berkunjung ke Malang, Probolinggo, Lumajang ataupun kota di Jawa Timur lainnya. Banyak tulisan yang menyertakan alamat lengkap serta akomodasi yang bisa kalian gunakan untuk sampai di sana. Jangan khawatir, pemerintah daerah sudah cukup baik memfasilitasi area wisata dari segi kenyamanan hingga keamanan wisatawan.

Akhir kata, jika diri ini tak mampu bersua, maka hanya tulisan ini sebagai penyampai asa. Hanya untaian pena yang ingin menjadi bermakna. Terima kasih telah membaca tulisan ini, walau tak mampu menjadi motivasi, setidaknya bisa berbagi informasi. Selamat berlibur, semoga senyum senja esok dapat menyapa kita kembali. Salam