Lingkarmalang.com, Kota Malang – Jejak pahlawan nasional memang tidak ada matinya, selain jejak-jejak yang memang sudah tersedia jelas didepan pelupuk mata juga ada jejak pahlawan yang masih misteri. Seakan membutuhkan energi untuk menguak sejarah sekaligus misteri yang di tinggalkan. Salah satunya peninggalan sejarah yang butuh penegasan untuk dikulik lebih dalam yaitu makam pahlawan nasional yang ada di samping Jalan Mayjend Sungkono.

Jika nawak-nawak Lingkar Malang menuju GOR Ken Arok dari arah pertigaan polsek Kedung Kandang setelah jembatan akan menemukan makam pahlawan nasional. Makam pahlawan yang terletak tepat di pelipir jalan ini merupakan makam Letda. Inf. K.H. Malik. Uniknya nama K.H Malik ini merupakan nama jalan panjang di sekitaran makam. Dari makam sampai jalan belakang GOR pun memilih nama pahlawan nasional sekaligus ulama’ tersebut karena memang nama tersebut sudah tidak asing di telinga warga buring.

Asal usul makam tersebut karena di tempat tersebut K.H Malik gugur dalam peperangan. Awal mula K.H Malik akan menuju Bangil Pasuruan untuk bergabung dengan pasukan disana. Rute perjalanan yang di mulai dari Slorok terus menuju utara hingga sampailah di tanjungrejo Sukun. Setelah berpamitan dengan keluarga K.H. Malik yang ada disana maka berangkat lagi.

Peristiwa naas terjadi pada beliau, ketika melewati daerah buring K.H Malik bertemu dengan konvoi serdadu belanda. Tembak menembak senapan pun tak dapat dihindarkan, namun K.H Malik memiliki kesaktian jika di tembak tidak mempan. Pasukan kolonialpun berinisiatif untuk menyeret kyai tersebut turun jurang sungai yang kini sudah ada rumah susunnya. Namun setelah di seret dengan mobil jeep khas kaum kompeni tak juga meninggal. Setelah beberapa hari disiksa dan di cari pengapesan-nya maka ditemukan kelemahan sang kyai.

Ada seseorang yang membocorkan kelemahan sang kyai dengan menghunuskan bayonet ke tanah sebanyak 3 kali lalu senapan tersebut di tembakkan tepat di mulut K.H. Malik. Setelah sang kyai wafat ditemukan surat wasiat yang di tuliskan sendiri oleh kyai. Beliau ingin di makamkan tepat di lokasi beliau gugur. Maka sejak saat itu para warga mengakui kesaktian K.H. Malik dan mendirikan makam meskipun terletak di pelipir jalan raya. (Nurohman)