Lingkarmlang.com, Kyai  Pasreh – Siapa yang tak tahu Jalan Kiai Parseh, sudah seyogyanya nama pahlawan seperti ini tak hanya menjadi nama jalan namun menjadi panutan yang diambil pelajarannya. Nah maka dari itu Lingkar Malang ingin mengulas rekam jejak pahlawan yang namanya sudah cukup terkenal di Kelurahan Bumiayu ini. Kiai Parseh sendiri bukan nama asli dari beliau, melainkan hanya julukan saja. Kiai seperti nama alim ulama, lumrahnya masyarakat -jawa pada umumnya dan malang pada khususnya- menyebut orang yang berpengaruh dengan nama kiai. Sedangkan Parseh berasal berasal dari bahasa Madura yang berarti tunas.

 

Mungkin Nawak-Nawak Lingkar Malang mulai bertanya. Kenapa ada comotan nama Madura yang melekat pada julukan Kiai Abdul Qodir? Karena memang Kiai Abdul Qodir alias Kiai Parseh berasal dari sana. Ada sebuah titah dari guru beliau untuk berdakwah di luar Madura. Maka sampailah beliau pada daerah Budengan (yang saat ini bernama Bumiayu). Dan lambat laun warga Budengan menyebut beliau sebagai Parseh.

 

Rekam jejak sumbangsih pembangunan Kiai Parseh pada masyarakat lebih di dominasi pada pembangunan keislaman masyarakat Budengan. Awalnya daerah Budengan ini masih belum ada. Maka Kiai Parseh melakukan babat alas di daerah ini. Setelah itu di bangunlah pondok pesantren untuk sarana para warga menuntut ilmu agama. Lambat laun pesantren yang dibangun oleh beliau menjadi terkenal. Banyak pemuda pemudi uang menuntut ilmu di pesantren yang kini berada di dekat pasar Gadang tersebut.

 

Sejarah semacam ini masih sangat jarang diketahui para warga yang memiliki rumah di Jalan Parseh. Untuk Nawak-Nawak Lingkar Malang yang masih ingin mengulik lebih dalam tentang Kiai Parseh dapat mengunjungi rumah beliau. Lokasi rumahnya sendiri di daerah Jalan Kapri, dari sana nanti bisa tanya lokasi rumah H. Amin. Rumah yang menjadi tempat tinggal Pak H. Amin ini merupakan rumah Kiai Parseh pada jaman dahulu. Ada beberapa peninggalan beliau yang masih terawat di rumah ini. satu pesan penutup bagi pembaca, ada sebuah pesan pendek dari Bung Karno yang berbunyi “Jangan sekali-sekali melupakan sejarah”.