Lingkarmalang.com, Angkot Kota Malang – Walau berada di daerah pegunungan, akhir-akhir ini hawa dan suasana di Malang semakin panas. Bukan karena iklim dan cuaca yang mendekati musim penghujan. Namun yang dimaksud panas disini adalah tensi persaingan antar pelaku transportasi umum, yaitu perselisihan angkutan kota dan transportasi berbasis online. Sebenarnya hal tersebut tidak hanya terjadi di Kota Malang, tapi juga di kota-kota besar lain seperti Surabaya, Bandung dan Jakarta.

Kerisauan para penggiat transportasi umum ini tak ayal juga menjalar kepada warga Malang terutama bagi mereka yang masih aktif menumpang kendaraan umum  yang berbasis dunia maya.  Rasa khawatir tak jarang menghinggap bagi Nawak Lingkar Malang yang ingin menggunakan angkutan tersebut, berbagai berita dan kabar burung tentang sweeping yang dilakukan oleh angkutan kota menjadi bumbu penyedap rasa kekhawatiran itu.

Sebenarnya bukan tanpa alasan angkutan kota memprotes sedikit keras terhadap masuknya transportasi online di Malang. Jauh sebelum masuknya transportasi yang kental  dengan warna hijau ini saja, angkutan Kota sudah banyak yang mengalami penurunan jumlah penumpang akibat invasi leasing yang berani menjual sepeda motor dengan uang muka yang kecil atau bahkan tanpa uang muka. Apalagi bila kini mereka harus beradu peruntungan dengan moda transportasi yang berbasis aplikasi Android.

Tak bisa dipungkiri dari masalah  kepraktisan ketiga transportasi online yang beroperasi di Malang ini memang lebih unggul daripada yang konvensional. Namun terkadang bagi mereka yang pernah secara rutin menggunakan angkutan umum ada beberapa rasa yang tidak bisa ditemui di transportasi online, adapun rasa itu adalah:

Ajang Pertemuan dan Penantian

Rasa ini biasanya dirasakan oleh para jomblo berseragam. mengingat angkutan kota melewati banyak sekolah tak jarang pertemuan antara kedua insan manusia berbeda jenis kelamin dan berbeda almamater bisa saja terjadi. Pertemuan ini tak jarang memberikan getaran yang berbeda bagi kedua belah pihak. Yang terjadi selanjutnya adalah kedua insan ini akan menjadikan angkutan kota sebagai sarana penantian untuk bertemu dan duduk bersama dalam bangku hitam angkutan kota sambil menanti saat yang tepat untuk saling bertukar nama.

Adrenaline dan Hembusan Angin

Kursi yang terbatas namun diiisi dengan jumlah penumpang yang melewati batas tak jarang harus memaksa salah satu dari penumpang untuk duduk di pinggir pintu. Bukannya sedih harus duduk di kursi ekstra yang kecil dan seadanya tersimpan di bawah bangku. Para pemuda ini justru bahagia karena dengan berada di pinggir pintu bisa merasakan hembusan angin yang bertiup dan juga adrenaline karena harus meng-gandol-kan satu tangan di pelipit pintu dengan badan sedikit berada di luar area mobil angkutan.

Sarana Balas Budi

Namanya juga angkutan umum, kita tak pernah tahu siapa yang berada di dalam angkutan umum bersama kita. Terkadang nasib bisa mempertemukan kita dengan orang yang kita hormati (seperti Guru, saudara ataupun sahabat lama) di dalam sebuah mobil berwarna biru ini. Hanya di moda transportasi ini pula kita bisa memanfaatkan momen ini dengan cara membayarkan ongkos angkot sebagai rasa hormat dan terimakasih kita. Memang tidak terlalu mahal ongkos yang dibayarkan, namun bisa dipastikan akan memberikan ruang yang mendalam bagi mereka yang mendapatkan perlakuan tersebut. (Kartiko)