mediamalang.com

Lingkarmalang.com, Kripik Malangan – Singkong merupakan tanaman yang sudah tidak asing di Indonesia ini, dahulu kala singkong pernah menjadi makanan pokok sehari-hari masyarakat. Karena mudahnya cara tanam yang hanya menancapkan batangnya saja lalu sudah dapat tumbuh dengan lebatnya. Kalau akhir-akhir ini tak jarang berbagai produk olahan untuk menambah nilai dari umbi.

Salah satu olahan singkong yang layak dan sudah tersohor menjadi oleh-oleh khas Malang yaitu keripik singkong ber-merk Lumba-Lumba. Yang menjadi tanda tanya besar kenapa sampai menjadi buah tangan yang terkenal -sebelum ada invasi oleh-oleh artis- di Malang. Padahal di mana-mana juga ada snack yang sudah merakyat ini. Riset singkat dari Lingkar Malang menyatakan para pembawa buah tangan ini takjub dengan kegurihan keripik yang berasal dari Kecamatan Turen ini.

Mungkin akan sangat receh jika Lingkar Malang yang mulai naik daun ini membahas cita rasanya. Karena segurih apapun keripik tetaplah keripik yang hanya dicari suara kemripiknya. Selebihnya hanyalah sebuah loyalitas yang dikemas apik dalam sebungkus identitas. Tak main-main juga untuk arus uang yang mengalir setiap harinya, tak kurang dari 30 ton keripik setiap harinya di goreng di pabrik yang ada di Desa Mentraman, Kecamatan Turen. Kebayang kan? Untuk 30 ton singkong yang diolah tak kurang 20 juta juta dapat di klaim menjadi omset pabrik keripik yang dimiliki oleh Pak Cip.

Mungkin ramainya orderan ini ditengarai oleh sejarah berdirinya perusahaan yang masih dikelola secara tradisional ini. Pasalnya Pak Sucipto ini memiliki hobi bersedekah. Sebelum pabrik berdiri Pak Cip bekerja sebagai kuli bangunan, beberapa tahun bekerja beliau sudah mengumpulkan uang senilai 90 juta sebagai tabungannya. Suatu malam Pak Cip dan istrinya bermimpi agar membuang semua harta yang dimiliki. Bagai nabi Ibrahim yang mendapat perintah untuk membuang Ismail, Pak Cip tak perlu berpikir dua kali. Semua hartanya termasuk uang 90 juta tadi beliau sedekahkan untuk fakir miskin dan juga anak yatim. Lha kok ndilalah kebiasaan untuk bersedekah itu keterusan sampai sekarang. Sampai-sampai masjid di depan rumahnya beliau bangun sendiri, jika ditaksir kurang lebih 2 miliar beliau sumbang untuk sebuah masjid. Dan masih banyak lagi sedekah yang dapat dipastikan berasal dari pengusaha keripik tersebut. Maka dari itu dapat disimpulkan faktor yang menyebabkan keripik ini terkenal bukan karena rajangan singkong meranti ketan. Tapi karena keniatan pemilik untuk berusaha menolong umat. Tanpa pikir panjang sejumlah nominal digelontorkan untuk menolong sesama. Maka dari itu kemripik yang dihasilkan juga lebih terasa nikmat karena ada berkah.