Lingkarmalang.com, Kota Malang – Antusiasme warga malang untuk belajar sejarah yang dulu pernah ada rupanya masih menggebu. Akhir-akhir ini ranah sosial media dipenuhi poster Malang Tempo Doeloe yang mengangkat tema Klapa Jadi Apa. Ibarat temu kangen para warga Malang atau warga luar Malang yang berdomisili di kota bunga menemukan event yang diidamkan.

Seperti yang di kutip dalam tulisan Lingkar Malang berjudul Festival Malang Kembali yang Tak Pernah Kembali, acara ini pernah menjadi event tahunan yang bisa dibilang meriah. Tak jarang warga kabupaten dan kota lain yang berdekatan dengan malang pada saat itu rela untuk berkunjung ke event yang bertajuk sejarah tersebut. Namun semenjak tampuk kepemimpinan Malang beralih ke Abah Anton event yang menjadi ajang pameran warisan sejarah mulai luntur. Tergantikan event-event nasional dengan kiblat promosi wisata budaya terkini yang dimiliki Malang.

Berawal dari sana pulalah Yayasan Inggil ingin me-recover acara yang pernah absen dalam tahun-tahun yang lalu. Menurut Dwi Cahyono dulu-dulu sengaja dihentikan karena acara ini sudah berpindah kiblat. Yang awalnya di buat untuk mengenang budaya tempo dulu menjadi ajang pasar pindah PKL dan pedagang.

Untuk acara yang akan digelar pada tanggal 12 november ini nantinya akan mengembalikan maksud dan tujuan acara tersebut terselenggara. Setidaknya ada 2 maksud terselenggaranya acara ini, pertama untuk menyelamatkan budaya dan sejarah. Kedua untuk menyelamatkan identitas warga Malang yang kini mulai luntur.

Uniknya meskipun hanya ada 3 lambang lembaga yang tertempel yaitu Yayasan Inggil, Disbudpar Kota Malang dan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Kota Malang. Namun publikasi secara sukarela juga sedang meradang di minggu sebelum acara ini. Mungkin hal ini merupakan intepretasi dari puncak kerinduan para publisher, seperti Lingkar Malang kali ini yang sengaja memuat konten meskipun tak ada imbal balik dari panitia. Setidaknya kita akan merayakan pertemuan yang sempat digadang-gadang karena absen beberapa tahun. (Pungkas)