Lingkarmalang.com , Gunung Bromo – Siapa yang tak kenal dengan destinasi andalan Jawa Timur bernama Gunung Bromo ini. Gunung yang melintasi tiga kota yaitu Malang, Pasuruan dan Probolinggo ini tak hanya sering memukau wisatawan lokal, namun gaung namanya juga harum hingga berbagai penjuru dunia. Jadi jangan heran pada masa-masa tertetentu khususnya di high season, Gunung Bromo ini dipenuhi oleh para pengunjung dengan berbagai macam warna kulit.

Bicara tentang keindahan gunung kebanggaan Jawa Timur ini ternyata pemerintah khususnya Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, tak ingin gampang puas dengan kondisi saat ini. Sejak akhir bulan agustus kemarin terlihat ada suasanan baru yang menghias alam Bromo, yaitu di beberapa tempat yang menjadi ikon wisata diberikan plang nama besar yang menandakan daerah tersebut. Adapun dua lokasi baru yang diberi nama adalah Lautan Pasir dan Savana atau yang sering juga disebut sebagai Bukit Telletubies.

Namun, upaya Taman Nasional untuk mempercantik Gunung Bromo ini ternyata tak mengundang reaksi positif bagi semua pihak. Beberapa aktivis dan penggiat alam memberikan reaksi yang cukup sumir terhadap kondisi ini. Contohnya seperti yang pernah disampaikan oleh Andik syafiudin kepada redaksi www.suryamalang.com “Hasil dari diskusi bersama teman-teman, ini namanya menghilangkan lokalitas Tengger, hanya komoditas untuk pasar wisata di mana bukan ekowisata yang sesungguhnya. Juga bukan landmark yang ikonik khas Tengger. Secara estetika juga tidak bagus karena artificial dan menghilangkan unsur alami serta kearifan lokal,” kata aktivis sahabat alam ini dikutip dari web official www.suryamalang.com. beberapa fotografer yang sempat ditemui oleh redaksi Lingkarmalang.com juga mengatakan bahwa dengan adanya papan nama/plang nama ini cukup mengganggu. Karena menghilangkan unsur kealamian dari wisata alam Gunung Bromo.

Diluar anggapan negatif tentang pemasangan plang nama ini, redaksi Lingkarmalang.com sendiri juga menemui kenyataan bahwa plang nama yang terbuat dari marmer ini sebenarnya juga cukup menarik perhatian para wisatawan, tak sedikit para pelancong yang berswafoto dengan latar belakang plang nama tersebut.

Kondisi pro dan kontra yang mencuat ini adalah masalah pelik yang harus segera diselesaikan dengan mengundang kedua belah pihak. Ada baiknya bila pihak yang berseberangan tersebut dalam waktu yang dekat duduk bersama dan membicarakan solusi agar tidak berdampak negatif bagi dunia pariwisata Jawa Timur dan Kota Malang pada khususnya. (Kartiko)