Lingkarmalang.com, Pengendara Biru – Siapa yang tak kenal dengan Malang, kota mungil, sejuk, asri yang menyimpan banyak kenangan dan membuat nyaman banyak orang. Kota ini mungil jika dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya seperti Surabaya, Jogja, Bandung, atau bahkan Jakarta. Sebagai penduduk tidak tetap di Kota Bunga ini, Malang telah mampu menyihir saya untuk berkeinginan tinggal disini lebih lama lagi. Parahnya lagi gara-gara Malang saya sering melupakan kampung halaman sendiri. Udara yang sejuk, fasilitas yang cukup lengkap untuk menunjang kebutuhan hidup jadi lebih efisien, harga makanan yang murah, teman yang banyak semakin melengkapi kerinduanku akan kota rantauanku ini. Namun bukan berarti kenyamanan tersebut menafsirkan bahwa saya tidak pernah merasakan masalah dan keluhan di Kota Bunga ini.

Pejuang pejalan kaki di Malang (sebelum transportasi online merajalela) kalau berkelana ke suatu tempat pasti identik dengan si Biru, mikrolet Angkutan Kota (angkot) Malang. Belum genap usiamu di Malang kalau belum merasakan masalah dengan si Biru ini, bukan dengan angkutannya tapi dengan sopirnya. Bukan bermaksud untuk mengeneralisasikan semua sopir Biru, hanya beberapa dari mereka yang sering mencoba untuk mencurangi penumpang. Umumnya tarif angkot di Kota Malang adalah sama baik untuk jarak dekat maupun jauh, dari yang dulu saya pertama kali di Malang sebesar Rp 2.500,- hingga sekarang Rp 4.000,- untuk kategori umum. Saya sendiri tidak tahu bagaimana sistem pendapatan sopir angkot di Malang, namun ada beberapa oknum sopir angkot yang sering menaikkan tarif secara sepihak dengan alasan jarak yang dituju penumpang terlalu jauh atau karena penumpang yang diangkut sedikit, kalau penumpang menolak sopirnya pun juga menolak untuk jalan. Bagi pelanggan angkot mungkin sudah paham tentang angkot ini tanpa saya sebutkan kode angkotnya.

Masalah lain yang pernah saya hadapi adalah saya bersama penumpang yang lain pernah diturunkan paksa di tempat yang bukan tujuan kami dan kami tetap disuruh membayar. Kalaupun kami komplain justru dia marah-marah dan hal itu percuma saja karena kasus seperti ini sudah sering terjadi, pada akhirnya penumpang lah yang tetap mengalah. Siapa dia? Kode angkotnya adalah sama seperti sebelumnya. Bukan hanya saya, beberapa teman saya juga sering mendapatkan masalah dengan angkot tersebut. Tidak hanya satu atau dua sopir tapi rata-rata sopir dari angkot tersebut memang seperti itu. Wajar kalau angkot tersebut mendapatkan citra negatif di masyarakat, wajar jika akhirnya banyak pelanggan yang beralih ke transportasi online demi kenyamanan.

Sangat disayangkan memang akibat modernisasi angkutan umum semakin tergeser keberadaannya, penumpang sepi, sopir seenaknya sendiri main naikin tarif, pelayanan tidak ada peningkatan, malang semakin macet dan sesak, udara sejuk dan segar semakin gersang. Jumlah angkot sebenernya sudah cukup banyak untuk menunjang ke berbagai wilayah Kota Malang, hanya saja kondisi fisik dan mesin perlu diperbaiki untuk meningkatkan pelayanan. Begitu pula dengan moral dan tata krama pengendaranya. Pemerintah harus lebih memperhatikan lagi masalah ini tanpa menutup mata dan telinga terhadap keluhan-keluhan dari masyarakat.

Terkait dengan pembenahan moral dan tata krama sopir ke penumpang mungkin bisa dilakukan dengan pembinaan tata krama dan sopan santun. Pemerintah juga sebaiknya memperbaiki sistem pendapatan sopir angkot agar jelas dan tentunya cukup untuk menunjang kehidupan mereka. Sopir angkot tidak akan bertindak seenaknya dan menyalahi aturan jika hidup mereka sudah sejahtera. Pemerintah harus lebih memperhatikan sarana dan prasarana daerah jika tidak ingin produk lokal tergerus jaman karena konsumen juga pintar dan bebas untuk memilih alat transportasinya demi kenyamanan.

OLEH: HALLA IMA PERTIWI