LINGKARMALANG – Meski tak seperti Ibukota yang sangat dekat dengan berbagai rumah produksi industri musik. Malang yang jauh dengan kapitalisasi dunia musik, enggan tunduk menyerah dalam beradu kreatifitas memproduksi insan-insan dibidang seni khususnya dalam dunia musik. Bukan hanya dikatakan berkembang, Malang kini menjadi salah satu barometer musik di Jawa timur yang patut diperhitungkan karya-karyanya di tingkat nasional.

Konseskuensi majunya berbagai aliran musik di suatu daerah, adalah turut menjamur pula berupa macam komunitas dari aliran musik tersebut. Termasuk di dalamnya komunitas reagge, penikmat musik reagge yang tergabung dalam komunitas cukup banyak, hal ini dapat diukur dengan membludaknya penonton pada setiap event musik reagge.

Dalam acara sambang komunitas, Lingkar Malang kali ini mampir ke markas komunitas band reagge yaitu tropical forrest. Disambut oleh sang duo vokalis yaitu Noy dan Unyil, suasana base camp yang sekaligus menjadi cafe bernama Tropisland ini langsung menjadi hangat dan bersahabat. Dan tak lama kemudian om Miko sang penabuh perkusi dikawal oleh beberapa personel yang lain turut hadir menggayengkan obrolan santai kami, berikut ringkasan kongkow seru kami yang terangkum dalam Q and A

LM      : Tropical Forest ini sudah berapa lama sih mas?

Unyil   : Kalau mulai cover-cover lagu kami mulai 2001 atau 2002, tapi kalau serius bikin lagu mulai tahun 2008

LM      :  kalau asal mula dan awalnya muncul nama Tropical forest dari mana mas?

Unyil   : Tropical forest ini awalnya dari komunitas pecinta alam, nah kalo namanya sendiri  kita mengangkat dari iklim Indonesia yang tropis dan hutan sebagi ikon alamnya jadilah nama tropical forrest

LM     : Genre  tropical forrest itu kayak gimana sih mas?

Om Miko   : Kalau benang merah kita tetap ada di reaage, Cuma kita mengemasnya sesuai dengan karakter setiap personel, seumpma ada yang suka jazz berarti reaggenya ada nuansa jazz, yang akhirnya tercipta reagge tropical forrest.

LM : Kenapa kok aliran reagge yang dipilih ?

Unyil : Kita ga pernah memilih

Om Miko :  temen-temen memang suka sama reagge dan bukan memilih, kalau memilih sekarang aku main reagge entah besok main genre yang lainnya lagi. Tapi kalau disini kita memang suka dan bukan pilihan jadi ya ngalir aja  

LM : inspirasi dalam membuat lagu ini dari apa aja nih mas ?

Unyil : karya kita sebagian besar bercerita tentang kondisi sosial, permasalahan lingkungan, alam. Karena kalo kita balik lagi ke reagge, rata-rata reagge punya jiwa rebel dan kebetulan juga wacana-wacana yang kita angkat tentang alam dan sosial, jadi suasana rebel nya di tropical forest masih kental.

LM :  kok ga pernah bikn lagu cinta-cintaan sih kayak yang lainnya

Unyil : lho ada mas, tapi cintanya cinta alam (sambil tertawa renyah)

LM : Banyak yang bilang kalau komunitas reagge dekat dengan hal yang negatif, tanggapan temen-temen tropical forest gimana ?

Om Miko:  terserah untuk yang mau berpendapat seperti itu, tapi kami lebih membuktikan lewat hasil akhir kami. Yang penting kami bisa berbuat sesuuatu yang berguna untuk lingkungan sekitar kita. Gak Cuma lewat lirik lagu tapi kami juga buktikan lewat keseharian kita, contohnya kita kumpul-kumpul dengan aktivis lingkungan kita bikin event tanam pohon di hutan, bersih-bersih kota, dan berbagai kegiatan yang lain.

Unyil :  yang penting adalah tanggung jawab, kalau tropical forest bicara lingkungan maka movement kita juga bergerak di alam dan lingkungan sebagai bentuk tanggung jawab

Tak terasa secangkir kopi hitam sudah tandas, dan sepiring tahu petis hampir ludes, perbincangan yang menarik dengan tropical forest menyisakan pertanyaan bagi saya. Sudahkah saya bergerak memperjuangkan demi lingkungan sekitar?