Lingkarmalang.com, Melawan Sampah – Deretan pantai Malang selatan dengan ombak yang menggempur pantai dengan gagahnya ditemani nyiur kelapa yang melambai pada para wisatawan yang berkunjung. Siapa yang tak mengetahui kondisi tersebut? Kemashyuran pantai malang selatan di mata turis domestic maupun asing memang cukup menyisakan memori tropis yang membekas.

Namun sayangnya seperti layaknya segala pantai di Indonesia dan khususnya di pulau jawa, ada satu hal yang sangat mengganggu mata dan hati mereka yang berkunjung. Kebanyakan pantai di daerah pesisisr pulau jawa ini mempunyai satu malasalh serius yaitu sampah. Walau pemerintah setempat maupun pengelola telah menyediakan tempat sampah di setiap sudut, tapi entah kenapa mereka (terlebih turis dari negeri kita sendiri) lebih gemar membuang sampah seenaknya, tanpa mengiraukan pengaruhnya pada estetika dan kealamian pantai.

Walau hampir semua pantai di deretan malang selatan mengalami hal yang serupa, namun kadang benar adanya peribahasa tentang “keledaipun tak akan jatuh di lubang yang sama untuk kedua kalinya”. Melihat tetangga-tetangganya telah jatuh dalam kondisi pantai yang kotor, pengelola pantai clungup tak ingin terjerumus di lubang yang sama pula, dan mencoba mengatasinya dengan mengelola management yang rapi dan tertib.

Clungup Mangrove Consevation atau biasa disingkat dengan CMC, adalah sebuah pengelolaan sumber daya alam (dalam hal ini adalah pantai) yang berbasis masyarakat. CMC ini sendiri mengelola tiga rangkaian pantai yang cukup terkenal di telinga para petualang, yaitu pantai clungup, pantai Gatra, dan Pantai Tiga warna.

Yang patut diacungi jempol adalah, pantai ini memiliki administrasi dan regulasi yang cukup rapi dan tertib. Setiap wisatawan yang berkunjung wajib didata, tidak hanya dicatat nama dan nomer telepon, CMC juga mendata barang bawaan yang berpotensi sampah. Regulasi yang mengikuti adalah, setiap sampah yang ditinggal dan tidak dibawa kembali k epos penjagaan akan dedenda RP 100.000 untuk setiap item. Sedangan untuk wisatawan yang ingin berkunjung ke pantai tiga warna untuk snorkeling ataupun sekedar cuci mata dengan keindahan alam wajib ditemani oleh guide dari warga local sendiri. Fungsi guide disini selain sebagai penunjuk jalan ( untuk diketahui untuk mencapai tiga warna dibutuhkan trekking) juga sebagai time keeper, artinya pengunjung tiga warna dibatasi hanya paling lama 2 jam, dan dalam 1 hari dibatasi 200 pengunjung hal ini bertujuan untuk menjaga ekosistem pantai tiga warna agar tetap lestari. (Kartiko)