Permainan Nyai Putut (sumber: thejakartapost.com)

Ditengah hiruk pikuk kota malang mungkin istilah nyai putut sudah mulai punah. Para pembaca pun meskipun berdomisili di malang masih terlalu asing dengan nama permainan tersebut. nyai putut merupakan permainan kuno tahun 60 an yang mulai punah diterkam modernisasi malang. Pemikiran masyarakat yang sudah semakin maju, dan adanya hiburan yang sudah tidak sulit ditemukan menjadikan permainan yang sarat akan kekuatan magis ini hilang. Namun kemarin waktu acara kampung budaya Polowijen digelar, permainan rakyat itu tersebut kembali dimainkan.

Kesan pertama yang terlintas adalah “kok gak sama kayak yang di ceritakan ibu saya ya?”. Masih melekat erat di memori saya cerita pagelaran nyai putut ini. Nyai putut sebetulnya adalah permainan rakyat sejenis jelangkung namun di buat acara hiburan. Device yang harus disiapkan yaitu alu (lumpang), kandang ayam, kain batik dan batok kelapa. Persyaratan mutlaknya yaitu alat-alat tersebut harus hasil curian dari warga kampung. Entah mengapa syarat tersebut harus terpenuhi, namun warga kampung yang menyelenggarakan hiburan nyai putut pasti memaklumi jika ada “pencuri”yang meminjam alat-alat tersebut. setelah peralatan siap maka pada malam jumat kliwon para warga mulai memenuhi tempat pagelaran. Dan mulailah hiburan magis namun gak bikin merinding tersebut. keempat pemuda desa mulai memegang ke empat alat yang sudah dirancang sedemikian rupa sehingga mirip ibu-ibu. Semua penonton mulai bernyanyai nyai “putut jungglo-jungglo” dan nyai putut yang di pegang tadi akan menari seiring cepat atau lampatnya nyanyian penonton.

Seperti itulah hiburan yang sempat melewati belantika hiburan masyarakat jawa. Lain dulu lain sekarang, jika kemaren nyai putut yang ditampilkan mirip jelangkung. Bahkan mbah dukunnya menamai nyai putut tersebut dengan jelangkung. Mungkin karena nama tersebut sudah ramah didengar penonton dan mbah dukunnya takut ada penonton yang asing dengan nama nyai putut. Namun terlepas dari istilah penamaan tersebut tradisi nyai putut ini patut untuk dilestarikan. Selain adanya kesempatan interaksi antar penonton jika pagelaran nyai putut di gelar juga para ibu-ibu atau mbah-mbah bisa mengenang masa dahulu ketika nyai putut masih menjadi primadona bagi masyarakat jawa (PungkasPung)