Lingkarmalang.com, Kota Malang – Pada artikel-artikel sebelumnya redaksi Lingkar Malang sudah pernah membahas tentang 2 kendaraan umum beroda tiga yaitu tentang Becak Motor yang kini kabarnya telah dilarang untuk beroperasi dari pihak kepolisian Malang, dan Bemo kendaraan yang pada jamannya sangat digemari dan pernah merasakan puncak kejayaan angkutan umum masa lampau. Nah kali ini redaksi Lingkar Malang akan sekali lagi menghadirkan pembahasan tentang moda angkutan umum lainnya.

Berbeda dengan angkutan roda tiga pada tulisan terdahulu yang digerakkan oleh mesin, kali ini redaksi akan membahas angkutan umum yang tatacara menggerakkan dengan dikayuh. Ya tak lain dan tak bukan bernama becak atau yang dalam Bahasa Inggrisnya sering disebut sebagai Pedicab.

Becak mempunyai padanan kata berbahasa Inggis sebenarnya bukan karena becak ala Indonesia yang sudah mendunia, melainkan karena pada dasarnya setiap negara terutama di Asia mempunyai kendaraan umum yang ke semunya memiliki satu kesamaan, yaitu beroda tiga dan digerakkan oleh tenaga manusia. Karena itulah ada padanan kata Bahasa Inggris untuk semua kendaraan tersebut yaitu Pedicab. Pedicab di Thailand biasa disebut sebagai Tuktuk, pedicab di Filipina bernama Padyak atau Sikad, sedangkan bila merunut sejarah awal kali becak ini muncul adalah di negara China dengan nama Rickshaw.

Mengenai kapan becak pertama kali muncul di Indonesia, redaksi Lingkar Malang belum menemukan data yang pasti. Yang jelas becak jaman dahulu kala sempat manjadi transportasi yang dimintai di Indonesia karena tarifnya yang murah dan tidak perlu berbagi dengan penumpang lain. Becak di Indonesia sendiri mempunyai ciri khas dari masing-masing daerahnya contohnya becak Malang yang cenderung tinggi dengan kursi yang tinggi pula, sedangkan becak Jogja yang lebih rendah dengan body-nya yang sedikit mendongak, berbeda di Jawa berbeda juga di luar Jawa contohnya Medan, becak di Medan pengayuhnya berada disamping penumpang dengan bentuk becak yang lebih persegi.

Kondisi dunia per-becak-an saat ini sudah sangat berbeda dengan dahulu kala. Becak bukan lagi angkutan andalan yang dipilih oleh warga Malang. Mungkin hal itu juga yang membuat tak ada regenerasi para pengayuh becak, para pengayuh becak yang ada rata-rata sudah berusia senja.

Menurunnya minat warga Kota Malang untuk menggunakan becak bukan berarti becak tak menawan di mata umum. Boleh jadi warga Malang lokal sudah bosan dengan kendaraan bernama becak ini, namun lain hal nya dengan turis asing yang singgah ke kota bunga ini. Becak di mata mereka adalah angkutan yang unik dan mempunyai nilai tradisional kedaerahan. Semoga ke depan pemerintah Kota Malang mempunyai ruang khusus untuk becak wisata sehingga bisa menghidupkan komoditi pariwisata sekaligus menjadi sumber penghidupan untuk para penarik becak di Malang. (Kartiko)