Lingkarmalang.com, Mitos Pria Dinoyo – Ada sebuah mitos yang menyatakan wanita Polowijen tidak boleh dilamar seorang lelaki yang berdomisili di Dinoyo. Mungkin mitos ini sudah semakin punah di masyarakat. Karena memang cerita-cerita rakyat semakin hari semakin tergerus oleh modernisasi zaman. Maka dari itu Lingkar Malang mencoba untuk mengembalikan cerita rakyat asli Kota Malang.

Pada suatu hari ada seorang wanita Polowijen yang cantiknya sudah menjadi rahasia umum bernama Kendedes. Karena kecantikannya anak Mpu Purwa tersebut berhasil menghipnotis pria manapun termasuk Joko Lulo. Dikisahkan Joko Lulo merupakan pria sakti mandraguna yang berasal dari desa Dinoyo. Namun sayangnya Joko Lulo tak berparas rupawan, hal ini yang sampai di telinga Kendedes sehingga memberikan syarat yang cukup sulit.

Bila memang ingin melamar Jojo Lulo diwajibkan untuk membuat sebuah sumur dengan kedalam satu windu atau delapan bulan perjalanan. Tantangan tersebutpun disanggupi oleh Joko Lulo. Karena memang kesaktiannya tak diragukan lagi, dia bisa menyelesaikan tantang tersebut dalam waktu singkat.

Maka tibalah waktu pernikahan antara Joko Lulo dan Kendedes, mempelai pria mengusulkan pernikahan dilakukan pada tengah malam. Agar muka Joko Lulo yang memang buruk rupa tersebut tidak terlihat oleh Kendedes. Mempelai wanita pun menyanggupi permintaan tersebut.

Singkat cerita pada tengah malam yang sudah disepakati terlaksanalah pernikahan tersebut. Namun entah kenapa tiba-tiba perempuan desa Polowijen ada yang menumbuk alu, membunyikan tompo (tempat nasi), dan ada yang membakar gabah. Seakan pagi tiba lebih cepat, dan benar saja muka Joko Lulo terlihat oleh Kendedes.

Kendedes kaget dan melompat ke sumur yang sudah dibangun oleh Joko Lulo. Saat itu secara spontan Joko Lulo mengutuk semua pihak yang memukul alu ke lumpangnya, membunyikan tompo, dan membakar gabah menjadi perawan tua semua. Lalu Joko Lulo ikut melompat ke sumur untuk mengejar kekasihnya Kendedes.

Orang tua dari kedua mempelai pun sangat malu kepada para hadirin yang hadir. Seperti orang tua kebanyakan, pastilah mereka memilih untuk mengantisipasi hal tersebut. Maka dari itu mereka melarang semua warga Dinoyo untuk melamar warga Polowijen. Begitu pula sebaliknya perempuan Polowijen memilih untuk menolak lamaran pria Dinoyo.