LINGKARMALANG – Naik daunnya Kota Batu sebagai Kota wisata memang baru mulai bisa dirasakan sejak tahun 2000, tepatnya ketika diresmikannya wahana bermain yang bernama Jatim Park 1. Namun tahukah Nawak Ngalam, bahwa sebenarnya Kota Batu sudah memukau para wisatawan jauh sebelum itu. Bisa dikatakan Kota Batu saat ini telah melalui tiga periode perkembangan pariwisata mengikuti pasar, pekembangan, dan minat wisatawan yang berkunjung. Dibawah ini tim Lingkar Malang ingin sedikit mengulas perkembangan Wisata Kota Batu menurut pengamatan kami.

Periode sebelum tahun 2000-an

Wisata alam adalah ikon yang dimiliki oleh Batu pada masa tahun 90-an. Gunung Panderman yang menyuguhkan pemandangan Kota Batu dari Puncaknya, Coban Rondo versi belum kekinian yang hanya menyajikan air terjun alami dan dinginnya aliran sungai, wisata petik apel khas Kota Batu dengan apel anna sebagai maskotnya. Ketiga destinasi ini adalah wisata alam yang kerap menggiring turis asing maupun dalam negeri untuk berkunjung dan berpetualang menyapa dinginnya kota Batu.

Periode 2000-2015

Kota batu pada masa ini mulai menancapkan kukunya dalam-dalam di bisnis pariwisata. Beberapa investor mulai membangun wahana wisata demi meramaikan geliat wisata di Kota ini.

Tercatat pada tahun ini dibangun wahana wisata keluarga seperti Jatim Park 1, Jatim Park 2, Museum Angkut, Batu Night Spectacular, Predator Fun Park. Terbukti, di tahun-tahun ini berbagai wisata berikut kebanjiran wisatawan dari berbagai usia.

Periode 2015-2017

Berbagai media sosial mulai berkembang pada tahun ini. Tak bisa dipungkiri derasnya penggunaan akun media sosial berdampak pada minat wisata yang menjangkit wisatawan khususnya yang berusia dewasa. Kini berbicara tentang wisata bukan hanya tentang kepuasaan hati namun juga wajib membawa oleh-oleh foto yang memuaskan . Membaca perkembangan jaman, beberapa spot wisata di kota ini pun menyiapkan  tempat wisata yang Instagramable. Beberapa contohnya seperti, Labirin di Coban Rondo, Café Tengah Sawah, berbagai spot selfi di Coban Rais, foto dengan kuda di Peternakan .Kuda Mega Star, rumah kayu di Omah Kayu Gunung Banyak, Tenda Apache di Coban Talun.

Kota Batu bisa dikatakan sangat serius mengelola wisata, namun ada sebuah pekerjaan rumah yang menghinggapi sebagian besar kota wisata, yaitu kemacetan di akhir pekan. Ke depan mungkin Pemerintah Kota Wisata Batu bisa mencari solusi untuk memecah kemacetan yang rutin terjadi ini. Karena tidak sedikit wisatawan yang sedikit kecewa karena harus membuang banyak waktu di jalan. (Kartiko.P)