Lingkarmalang.com, Negeri di Atas Langit – Sex bebas memang sangat tabu jika dikomparasikan pada adat ketimuran. Hubungan di luar nikah rasanya masih tetap tidak mendapat tempat di nilai kepantasan adat ketimuran. Hal ini sudah berjalan beberapa tahun silam. Bahkan jika hamil di luar nikah akan mendapat hukuman secara langsung ataupun tidak langsung. Salah satu adat yang memberlakukan hukuman secara langsung jika hamil di luar nikah adalah adat Tengger Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang.

Adat suku Tengger memberlakukan hukuman 50 sak semen jika yang hamil dan yang menghamili berstatus belum nikah. Lain halnya jika kedua pasangan memiliki status sudah menikah. Hukuman akan berlipat ganda menjadi 100 sak. Hal ini tak lain hanya bertujuan untuk menjaga hukum adat yang sudah berlaku sejak lama. Semen hasil denda itupun akan digunakan oleh perangkat desa untuk membangun beberapa fasilitas umum. Jadi jika penduduk desa akan melakukan perbuatan tidak senonoh akan berpiki dua kali.

“Dahulu untuk melacak dua insan yang melakukan perbuatan zina ada dua tetenger (tanda alam). Pertama, jika ada ayam berkokok pada malam hari atau masih belum waktunya. Kedua, jika ada jejak macan di jalan desa”, terang pak Sukini pada kami. Selain tanda-tanda alam ada juga metode untuk melacak kehamilan melalui dukun bayi. Metode ini akrab dengan nama Petekan, berawal dari nama petek/wetek yang jika diartikan dalam bahasa jawa bermakna tekan.

Perawan-perawan desa akan berkumpul di kantor desa dan menunggu giliran untuk dilakukan ritual tersebut oleh dukun bayi. Jika sudah datang gilirannya, dukun tersebut akan melakukan pijatan di bagian perut antara kemaluan dan pusar, dukun bayi tersebut sudah dapat mengetahui ada atau tidaknya janin pada rahim. Terkadang hal seperti ini kerap diremehkan, namun meskipun diremehkan karena terkesan kolot tetap memiliki makna. Entah untuk menjaga kejelasan garis keturunan atau untuk menjaga keluhuran adat ketimuran.