Larung Sesaji di Kawah Gunung Bromo

LINGKARMALANG – Suku Tengger merupakan suku adat yang bertempat tinggal di lereng Gunung Bromo. Menurut banyak referensi suku tengger merupakan suku keturunan dari kerajaan majapahit yang masih melestarikan akar kebudayaan sampai masa modern ini. meskipun memiliki keyakinan hindu, keyakinan suku tengger masih tergolong hindu kuno yang diadopsi dari india namun di campur dengan asimilasi budaya majapahit. Salah satu upacara kebudayaan yang masih dianut sampai saat ini adalah upacara kasada.

Upacara kasada yang memiliki nama asli hari raya yadya kasada adalah upacara sesembahan kepada sang hyang widhi. Hari raya ini biasa dilakukan pada tanggal 14 bulan kasada atau sepuluh pada penanggalan jawa. Upacara ini diawali dari sejarah suku tengger sendiri, pada awalnya rara anteng dan joko seger menikah. Pasangan ini membangun rumah di daerah tengger, dikarenakan kedua insan tersebut merupakan keturunan raja dan brahmana. Maka desa tengger tersebut dipimpin oleh pasangan ini. konon ada yang bercerita bahwa nama tengger dicomot dari nama pasangan Roro Anteng dan Joko Seger.

Selama beberapa tahun mereka berumah tangga namun tak kunjung dikaruniai anak. Karna hal tersebut suami istri tersebut memilih untuk bersemedi dan memohon kepada sang hyang widhi untuk di berikan keturunan. Setelah beberapa waktu bersemedi kedua insan tersebut di berikan ilham melalui suara gaib. Suara gaib tesebut mengatakan bahwa mereka akan diberikan keturunan namun anak bungsu dari pasangan tersebut harus rela dikorbankan ke kawah gunung bromo. Dan pasangan roro anteng dan joko seger akhirnya menyanggupi persyaratan tersebut.

Prosesi Upacara Adat di Pure Agung

setelah beberapa tahun mereka berdua dikaruniai anak 25 orang putra putri. Namun mereka tidak tega untuk mengorbankan anak sulungnya yang bernama kesuma. Dengan kata lain mereka mengingkari janji kepada sang hyang widhi. Akhirnya gunung bromo pun menjadi gelap gulita dan meletus. Anak sulung mereka yang bernama kesuma tersebut tiba-tiba hilang bersamaan dengan adanya jilatan api kerumah roro anteng. Setelah anak sulung dari kedua pasangan tersebut hilang tiba-tiba terdengarlah suara gaib “saudara-saudaraku aku telah dikorbankan oleh orang tua kita dan sang hyang widhi menyelamatkan desa kita. Hiduplah dengan damai dan sembahlah sang hyang widhi. Aku mengingatkan kalian semua untuk mengadakan sesaji untuk sang hyang widhi pada tanggal 14 bulan kasada di kawah gunung bromo”. Dan semenjak kejadian tersebut suku tengger memperingati upacara kasada di pura lautan pasir dan diarak ke kawah gunung bromo.

Hal yang sangat unik yaitu suku tengger tidak peduli meskipun bromo erupsi upacara ini masih dan memang harus di jalankan. Salah satu foto diatas merupakan foto berlangsungnya upacara meskipun ada banyak abu di atas mereka. Memang hal tersebut di luar nalar manusia tapi memang kenyataannya erupsi gunung seakan ter-pause dan membiarkan upacara tersebut terlaksana. (PungkasPung)