LINGKARMALANG – Bagi Nawak Ngalam yang lahir di era 2000 an mungkin sudah tidak pernah mengenal angkutan umum yang satu ini. Jauh sebelum gemparnya ojek dan taksi yang berbasis aplikasi, kendaraan yang dari atas menyerupai kerucut dan menyerupai Bajaj yang kondang di Jakarta ini, sempat menjadi angkutan yang paling diminati . Becak motor atau yang jaman dulu kala sering disingkat menjadi Bemo adalah salah satu legenda jalanan yang pernah berkesan dihati para warga Malang Raya.

Walaupun bentuknya menyerupai Bajaj, namun sebenarnya Bemo mempunyai ciri khasnya sendiri yang benar-benar berbeda dengan Bajaj. Dilihat dari fisiknya walaupun sama-sama beroda 3 namun Bajaj mempunyai stang seperti sepeda motor, sedangkan Bemo lebih menyerupai  mobil dengan kemudi bundarnya. Kapasitas Bemo pun lebih banyak bisa memuat sekitar 6-7 orang sedangkan Bajaj maksimal hanya bisa memuat  2 orang. Berbeda pula dengan Bajaj yang menyerupai taksi mengantarkan penumpang hingga ke tujuan, Bemo pada masa kejayaannya dulu mempunyai trayek yang sebagian besar rutenya melewati pasar-pasar di Malang dan fasilitas umum lainnya. Ada satu keunikan lagi kita temui bila naik Bemo, penumpang yang turun tidak perlu teriak “kiri” seperti naik Angkutan Kota melainkan hanya perlu memencet tombol yang ada di atap Bemo, sontak tombol ini akan mengirimkan suara ke kokpit supir dan supirpun menghentikan lajunya.

Sayangnya transportasi umum yang asap knalpot nya sering membuat batuk pengendara lain ini pada akhirnya harus menyerah pada kebijakan pemerintah Kota Malang untuk dipensiunkan. Lambat laun keberadaan Bemo digantikan dengan angkutan kota berwarna biru yang saat itu masih banyak yang mulus dan bersih. Kini nostalgia tentang beradu lutut karena sempitnya tempat duduk, serta nyaringnya suara “teeet” saat tombol dipencet, hanya tinggal sebuah kenangan.  Kini Bemo telah menikmati masa pensiunnya dipajang di salah satu museum di Kota Batu, untuk mengingatkan siapa dulu raja jalanan yang pernah menguasai jalanan Kota Malang. (Kartiko.P)