Lingkarmalang.com, Monumen Palang Merah – Pemuda jaman sekarang mungkin hanya mengenal peperangan dari game online, game android ataupun visual ledakan-ledakan spektakuler versi rumah produksi Hollywood. Penggemar film action bisa berpendapat bahwa peperangan adalah konsumsi fiksi yang menghibur ketika disuguhkan dalam layar-layar bioskop ataupun televisi.

Sayangnya dalam kondisi nyata, peperangan hanya membawa duka dan nestapa bagi para warga, rakyat maupun pemerintah. Duka dan nestapa ini tak hanya melanda mereka yang hanya di pusat kota yang notabene adalah pusat pemerintahan. Terbukti ada sebuah monument yang menceritakan tentang duka tersebut jauh di pelosok Malang, yaitu di lereng Gunung Kawi yang nama daerahnya terkenal dengan nama Desa Peniwen.

Mounumen ini bernama Monumen peniwen Affair, atau warga setempat juga sering menyebut sebagai monument PMR (Palang Merah Remaja). Awal mula cerita lahirnya monument ini dimulai dengan agresi Belanda ke Indonesia yang ke dua.  Gencaran tantara Belanda yang ingin kembali menguasai Indonesia dalam medio 1948 dilawan dengan gigih oleh laskar-laskar Indonesia dengan metode andalannya yang bernama gerilya. Sebua desa kecil bernama Peniwen pun tak luput dari arteleri Belanda yang berusaha memadamkan semangat pejuang yang tak Lelah membela tanah airnya.

Kegeraman Belanda yang sudah di ubun-ubun menjadikan Belanda melanggar perjajnjian internasional untuk tidak menyentuh segala fasiltas medis dan tenaga medisnya. Tepat pada tanggal 19 februari 1949 tentara KNIL merangsek masuk ke dalam rumah  sakit panthi Husodho yang biasa digunakan sebagai tempat pengobatan para pejuang gerilya. Tak hanya sampai disitu, KNIL juga memerintah semua penghuni dan pasien untuk keluar dan mengobrak abrik tempat pengobatan tersebut. Sedangkan para tenaga medis yang sebagian besar juga pelajar dikumpulkan dan diikat Bersama dengan warga setempat yang pada akhirnya beberapa dari mereka juga dieksekusi.

Selang beberapa waktu kemudian, Pendeta setempat yang tidak terima dengan peristiwa tersebut melaporkan hal ini kepada dewan gereja jawa timur, dan dewan gereja Jawa Timur melayangkan laporan ini hingga ke dewan gereja nasional dan internasional.

Gayung bersambut, dunia mendengar kekejian yang dilakukan belanda dan mengecap Belanda saat itu melakukan tindakan kejahatan perang. Semakin berang dengan kondisi tersebut Belanda berusaha kembali dengan membawa arteleri dengan gereja sebagai sasarannya. Keberuntungan masih menyertai desa Peniwen beberapa artileri terbukti meleset dan hanya mengenai bagian belakang gereja

Untuk menghormati kegigihan dan usaha Palang merah Remaja dan warga peniwen, pada tahun 1983 dibuatlah tonggak sejarah bernama Monument Peniwen Affair. (Kartiko)