LINGKARMALANG – Dalam hitungan hari negeri ini akan dimeriahkan oleh berbagai gegap gempita kemerdekaan.  Mulai dari sekolah hinggga pada pelosok kampung akan mewarnai dirinya dengan atribut khas kemerdekaan. Bukan hanya pada perubahan fisik saja, setiap sudut kota mulai dari perkantoran hingga karang taruna setempat akan menyiapkan moment 17 agustus dengan berbagai acara yang menarik. Perlombaan, gerak jalan, ataupun syukuran desa ramai  diperbincangkan demi terselenggaranya acara yang dapat menghibur semua pihak sekaligus menjadi refleksi tentang pentingnya makna sebuah kemerdekaan.

Lingkarmalang.com sebagai media portal informasi Kota Malang, tak ingin ketinggalan meramaikan semarak kemerdekaan. Dalam artikel kali ini Lingkar Malang ingin kembali mengenang jasa pahlawan yang membela tanah air khususnya Kota Malang  yang tercinta ini.

Bagi sebagian warga Malang, nama Hamid Rusdi mungkin hanya diketahui sebagai sekedar nama jalan ataupun nama terminal di daerah Tlogowaru.  Namun bila kita mau sedikit menengok sejarah perjuangan Kota Malang, nama Hamid Rusdi sebenarnya sangat melekat dengan pergerakan pejuang rakyat Malang melawan penjajah dan juga sedikit banyak berpengaruh terhadap budaya Kota Malang yang sering disebut sebagai bahasa walikan.

Seperti yang pernah ditulis dalam artikel sebelumnya, berjudul “semangat arek  Malang mempertahankan kemerdekaan”. Ada satu peran penting yang dipegang Mayor Hamid Rusdi dalam usahanya menghantam sekutu dan penjajah, Mayor Hamid Rusdi memimpin sebuah pergerakan rakyat yang saat itu disebut sebagai “Malang Bumi Hangus”. Walau pergerakan ini tidak menuai keberhasilan namun semangat arek  Malang yang dipimpin oleh  Mayor Hamid Rusdi ini juga tidak bisa disepelekan, kedua belah pihak jatuh korban yang cukup banyak. Semangat untuk mempertahankan kemerdekaan tak berhenti sampai disini Mayor Hamid Rusdi tak berhenti melakukan gerilya – gerilya dalam kelompok yang lebih kecil.

Kabarnya, budaya dan ciri khas Kota Malang yaitu boso walikan juga inisiatif yang ditelurkan oleh kelompok gerilya rakyat kota tempat Mayor Hamid Rusdi pernah memimpin pasukannya dahulu. Dalam artikel lingkarmalang “boso walik an” disebutkan pula bahwa bahasa ini memang sengaja diciptakan untuk mengelabui mata-mata Belanda yang berada dalam tubuh geriya rakyat kota.

Ada banyak cara merayakan kemerdekaan salah satunya mengenang  tokoh pahlawan yang ada di sekitar kita. Mayor Hamid Rusdi yang jenazahnya kini dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Suropati, adalah salah satu yang  bisa kita teladani jasanya bagi bumi arema ini.