Ketika gending giro mulai dimainkan oleh para pengrawit, seketika itu pula para penonton terdiam dari obrolan ringannya. seluruh mata mulai menyaksikan ke tempat pagelaran dimana para penari meliukkan keindahan tarian di balik topeng yang mereka kenakan.

Aku lupa dengan cerita yang dimainkan saat itu, atau mungkin lebih tepatnnya kurang paham dengan jalan ceritanya. Yah maafkan, ini memang pertama kalinya aku menonton tari topeng setelah bertahun-tahun hidup di kota malang yang tercinta ini.

Seiring waktu yang berdetak di arlojiku, berbagai tokoh panji (ksatria), dewi dan kelana (raksasa) silih berganti menunjukkan kepiawaiannya memainkan lakon dengan indah. Sebagaian dari penonton terkesima dengan penampilan Panji Asmoro Bangun yang gagah berani dan bijaksana, dan beberapa sisanya mendecak kagum ketika Dewi sekartaji yang cantik jelita serta cerdas tampil menghipnotis mata penonton.

Sedikit aneh, aku mempunyai ketertarikan yang berbeda dengan mereka. Topeng kelana dengan hidung mancung menyita perhatianku. Berbeda dengan topeng tokoh jahat yang lain, kelana yang satu ini tidak menunjukkan raut wajah seseram yang lainnya. Gerakannya pun cukup berbeda, lambaian tangan yang merentang ke kiri dan Kanan dengan lebar menjadikannya tokoh raksasa yang tidak terlalau gahar.

Bapang Jayasentika namanya, atau lebih dikenal dengan nama Bapang. Menurut beberapa literatur yang aku baca, tokoh yang lahir di kadipaten Banjarpatoman ini memang sedikit unik. Wataknya bisa dibilang ganjil, warna merah yang mewakili kelompok kelana menjelaskan bahwa Bapang ini mempunyai sifat angkara murka, sedangkan hidungnya  yang mancung serta dadanya yang membusung saat menari menandakan  sifatnya yang sombong ,selalu ingin disanjung dan tidak mempunyai kepribadian yang tetap. Tapi menurutku hal ini cukup unik, tidak seperti Prabu Kelana Sewandanna ataupun Kelana Sabrang yang terlihat bengis dan kejam, bapang walaupun dikategorikan sebagai tokoh protagonis namun masih memiliki sisi humanis, keceriaan serta keanggunan .

Bapang memang tidak sekeren Panji asmorobangun yang heroik ataupun Dewi  Sekartaji yang menawan. namun karena keunikkan karakternya, tak jarang sepenggal kisah Bapang menjumpai sang Prabu Klana Sewandana dijadikan tarian yang berdiri sendiri. tarian ini juga dikenal sebagai Tari Topeng Bapangan yang tak ayal sering pula diajadikan sebagai tari pembuka dalam sebuah acara.

Penulis TIko. P.