Gunung Arjuna memang tidak se-masyhur Gunung Semeru dan Gunung Arjuna memang tidak setinggi Gunung Semeru. Ketika pandangan mata tertuju kearah daratan Jawa di bagian timur, seolah-olah yang terlihat oleh mata hanyalah segumpal pasak bernama semeru. Memang wajar karena gunung semeru memiliki gelar “tertinggi” di pulau ini.

Dari puncak Gunung Semeru meliriklah sedikit kerah Barat Laut, Maka engkau akan melihat gagahnya sebuah pasak yang ikut memperkokoh pulau ini, Pasak itu bernama Arjuna. Jika Semeru dijadikan tempat untuk para dewa bersemayam lain cerita dengan Gunung Arjuna. Di Gunung Arjuna manusialah yang ditempa oleh kekuatan para dewa.

Konon pada suatu masa, dimana saat itu para tititsan dewa masih berlalu lalang di muka bumi, dataran yang dianggap paling tinggi disuatu wilayah yang mengelilinginya kadangkala dijadikan tempat untuk bersemedi. Di masa itu, Arjuna yang merupakan manusa titisan dewa menemukan sebuah gundukan tinggi yang berada di sebuah wilayah. saat ini wilayah itu dekenal dengan sebutan Malang. Setelah menemukan gundukan, Arjuna memutuskan untuk menjadikan tempat itu sebagai ruang untuk meningkatkan kesaktiannya.

Di Pucuk Gundukan, Arjuna memulai meditasinya. Dari atas sana terlihat dua kepulan asap dari dua gundukan yang berbeda, gundukan yang pertama dari gunung yang saat ini dikenal dengan gunung Semeru, dan gundukan lain  dan lebih dekat seolah menemani persemediannya yaitu gunung Welirang. Terlihat juga hamparan rumput luas di sebuah lembah, hamparan rumput hijau yang sering di singgahi sekumpulan kijang untuk membasahi kerongkongannya.

Arjuna bukanlah seorang manusia biasa yang ingin memiliki kekuatan dengan cara bersemedi, Arjuna adalah seorang panglima perang dengan segudang kesaktiannya. Tujuan persemediannya kali ini adalah untuk menambah dan menambahkan kesaktiannya. Walaupun arjuna merupakan titisan dewa, pada saat itu sifat manusiannya lebih dominan dan berhasil menguasai dirinya. Dia tidak puas dengan kemampuan yang dimilikinya pada saat itu, karena itulah arjuna bersemedi.

Persemedian diibaratkan seperti seseorang melewati sebuah ujian. Segala makhluk jahat dan kuat selalu menggoda Arjun. Namun Arjuna tidak bergeming, kekuatannya semakin meningkat, dan itu pertanda persemediannya berhasil.

Cahaya berkilau bagai bintang muncul dari tubuh Arjuna, Kilauan itu semakin memperkuat dan membuktikan bahwa persmediannya berhasil. Kekuatan arjuna yang begitu besar ternyata memberi rangsangan juga pada gundukan itu, Gundukan tempat Arjuna Bersemedi semakin besar dan membesar, tinggi dan menjulang tinggi. Tidak hanya alam disekelilingnya, langit Khayangan pun ikut bergetar hingga para dewa penasaran siapa gerangan yang menimbulkan kecauan seperti ini.

Langit khayangan yang merasakan kekuatan Arjuna membuat para dewa akhirnya memutuskan untuk turun kebumi. Satu persatu dewa turun dan mengingatkan Arjuna agar dia menghentikan permediannya. Namun Arjuna tetap tidak bergeming, dia terus melanjutkan tapanya.

Akhirnya Dewa terkuat khayangan ikut turun tangan, Bhatara Semar beserta pasukannya turun ke Bumi. Gundukan yang semakin tinggi dia potong dan dilemparkannya gundukan itu ke Arah Arjuna. Arjuna yang khusuk bersemedi pun kaget melihat kekacauan di sekelilingnya. Dengan penuh sesal Arjuna meminta maaf kepada Bhatara Semar akan keserakahannya dan rasa tidak puas diri berlebihan yang dia lakukan. Arjuna juga menerima semua nasehat yang diberikan oleh bhatara Semar. Mulai saat itulah gundukan tinggi yang membentengi kota malang di panggil dengan sebutan Gunung Arjuna.