LINGKARMALANG – Musim kemarau merupakan saat yang tepat untuk bermain diluar rumah. Selain untuk menambah keakraban bersama teman sejawat dapat pula menambah keasyikan bermain. Setidaknya sebelum memasuki era smart phone dan game online hal tersebut masih sangat lumrah dilakukan anak-anak. Semakin memasuki era tekhnologi semua itu semakin langka. Tak semuanya hilang di telan dengan tradisi teknologi yang datangnya dadakan. Salah satunya yaitu bermain layang-layang.

Di area Kota maupun Kabupaten Malang masih ada beberapa titik yang menjadi tempat berkumpul para penghobi layang-layang.  Sejumlah tanah lapang entah tanah kosong atau tanah yang masih dalam tahap pengerjaan dapat menjadi tempat gathering para penerbang layang-layang. Seperti halnya di Kecamatan Wajak Kabupaten Malang dan Kelurahan Buring Kota Malang. Di Kecamatan Wajak lebih memanfaatkan lahan sawah untuk menerbangkan layang –layang yang mereka miliki. Lain halnya jika kita lihat di Kelurahan Buring para pemilik layang-layang memilih spot tanah yang tak terpakai di sekitar terminal Hamid Rusdi untuk tempat mengndalikan layang-layang mereka.

Layang-layang yang diterbangkan pun tak seperti di pulau dewata, yang hanya diterbangkan dan adu kecantikan saja. Namun layang-layang diterbangkan untuk beradu kuat dan bermanufer sekehendak pemegang benang layang-layang. Ibarat pesawat layang-layang yang diterbangkan oleh penghobi layangan ini sangat lumrah bermanuver kesana kemari. Sesekali layang-layang yang terbang beradu kuat dengan layang-layang lain. Lebih tepatnya bukan layang-layangnya yang beradu kuat melainkan bola senar layang-layang tersebut.

Ibarat gathering di komunitas lain, tanpa dikomando pun sang penerbang layang-layang juga memiliki jam-jam tertentu untuk menerbangkan layang-layang. Biasanya mereka mulai berkumpul di jam-jam sore hari sampai matahari terbenam. Karena kondisi panas matahari yang tidak terlalu menyengat yang melatar belakangi jam tersebut ditetapkan sebagai jam terbang layang-layang. Sangat santai rasanya jika para Nawak-Nawak Lingkar Malang berhenti sejenak dan merefresh diri sepulang kerja dengan melihat layang-layang yang sedang bermanuver di birunya langit sore. (Pungkas.P)