www.Duta.co

Lingkarmalang.com, Kota Malang – Beberapa hari hari lalu netizen Malang dikejutkan oleh berita bahwa Kota Malang merupakan kota termacet ketiga di Indonesia setelah Bandung dan Jakarta. Penelitian yang dihasilkan oleh lembaga riset Inrix tersebut cukup mengejutkan karena Malang yang notabenenya lebih kecil dan sepi dari Surabaya dan Yogyakarta justru tingkat kemacetannya lebih tinggi. Sebagai warga sementara selama 7 tahun tinggal di Malang saya akui memang semakin kesini kota ini semakin sesak oleh kendaraan dan manusianya. 3 tahun yang lalu ketika saya menyeberang jalan dikala weekend pagi jalanan masih terasa sepi dan luas, namun sejak 2 tahun belakangan untuk menyeberang dikala weekend pagi pun tidak seleluasa dulu. Jalan-jalan alternatif yang dulu relatif sepi kini juga semakin padat merayap setiap harinya.

Faktor kemacetan di Malang tidak lain dikarenakan jumlah kendaraan roda empat dan roda dua semakin meningkat sedangkan ukuran jalan tidak mengalami perluasan. Naiknya volume kendaraan tentu diakibatkan karena semakin banyaknya mahasiswa maupun warga pendatang yang lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi dari pada angkutan umum demi kenyamanan dan keefisienan ke tempat tujuan. Jumlah mahasiswa di beberapa kampus yang semakin meningkat tiap tahunnya tentu akan mempengaruhi jumlah laju kendaraan pribadi di kota pendidikan ini. Maraknya transportasi berbasis online juga mendorong warga lokal maupun pendatang untuk menurunkan kendaraan mereka ke jalan guna meraup keuntungan pasar. Belum lagi semakin banyaknya tempat-tempat wisata di Malang menjadikan jalanan pada Sabtu-Minggu semakin penuh sesak, bukan hanya dari penduduk lokal namun luar kota juga.

Solusi dari pemerintah Kota Malang beberapa tahun lalu adalah penerapan jalan satu arah di beberapa titik jalan, salah satunya di kawasan kosan saya (sepanjang jalan gajayana-jalan sumbersari). Rupanya solusi tersebut tidak berhasil karena  meskipun di jalan tersebut tingkat kemacetan menurun tapi justru di titik jalan yang lain tingkat kemacetan semakin parah, sehingga pemberlakukan jalan satu arah dihentikan. Menurut saya kawasan tersebut memang kurang cocok dan relevan jika digunakan sistem satu arah karena merupakan area kampus dan kos-kosan yang padat penduduknya. Jika diberlakukan sistem satu arah akan semakin menghambat tatanan kehidupan warga dan laju perekonomian di kawasan yang bersangkutan.

Rupanya pemerintah masih belum gentar untuk mencoba solusi yang sama seperti sebelumnya. Kabar terbaru untuk menanggulangi masalah kemacetan ini Kepala Dinas Perhubungan Kota Malang, Kusnaidi ingin melakukan uji coba penerapan sistem jalan satu arah di beberapa titik dan jam tertentu. Dari pada mengubah tatanan yang sudah mendarah daging di masyarakat lebih baik pemerintah mencoba untuk membuka jalan-jalan alternatif baru atau berupaya untuk mengurangi jumlah kendaraan pribadi di jalan. Sebagai contoh pemerintah memberikan subsidi atau hadiah bagi warga yang mau menggunakan transportasi umum dan juga bagi sopir tranportasi umum sebagai bentuk apresiasi bagi mereka pengguna angkutan umum atau bagi warga pendatang yang tidak memiliki kendaraan pribadi. Pemerintah juga harus gencar berdialog dengan pihak kampus-kampus untuk menetapkan kuota atau pembatasan jumlah mahasiswa yang akan dijaring masuk ke kampus tersebut.  Meskipun realisasi hasil dari upaya ini terkesan agak lama setidaknya bisa bertahan untuk jangka panjang.

OLEH: HALLA IMA PERTIWI