Malam 1 suro atau malam 1 muharram merupakan malam pergantian tahun dalam kalender hijriah. Dalam tradisi jawa malam 1 suro seringkali dikaitkan dengan hal mistis. Namun tidak demikian jika kita merayakannya di Gunung Kawi. Seperti halnya daerah lain yang kerap setiap tahun melakukan upacara, kirab dan lain sebagainya. Gunung kawi pun juga merayakan datangnya malam satu suro ini dengan cara yang berbeda tentunya.

Seperti yang sudah di jelaskan pada artikel lingkar malang sebelumnya gunung kawi merupakan makam eyang jugo yang merupakan sesepuh dan sekaligus yang membuka daerah gunung kawi ini, namun disini juga ada tempat peribadatan etnis tionghoa. Hal ini membuat perayaan antar 2 etnis tersebut berjalan beriringan.

Sumber Instagram (@nopha_lia)
Sumber Instagram (@nopha_lia)

Jika anda mengunjungi gunung kawi pada malam satu suro anda akan menemukan percampuran budaya antara etnis jawa dan etnis tionghoa. Pada malam satu suro anda bisa menyaksikan hiburan barongsai di kuil dewi kwan im yang terletak tidak jauh dari pesarehan eyang juga. Setelah pertunjukan etnis tionghoa selesai di lanjutkan dengan pertunjukan wayang kulit yang mewakili etnis jawa. Pertunjukan wayang kulit ini diadakan di padepokan atau tempat tinggal semasa hidup mbah jugo. Seperti halnya pertunjukan yang di pertontonkan di khalayak umum kedua pertunjukan ini juga di lihat oleh kedua etnis tersebut tanpa mengindahkan perbedaan warna kulit.

Selain kedua pertunjukkan tersebut untuk mengenang perjalanan eyang jugo ada juga para peziarah yang melakukan napak tilas eyang jugo. Napak tilas tersebut dilakukan untuk mengenang perjuangan eyang jugo. Dahulu kala eyang jugo merupakan pejuang kemerdekaan yang merupakan rombongan dari pangeran diponegoro. Namun dalam perjalanannya eyang jugo memilih untuk membangun desa jugo yang terletak di kecamatan kesamben kabupaten blitar. Setelah selesai membuat peradaban yang makmur di desa tersebut eyang jugo melakukan perjalanan dari desa tersebut ke daerah gunung kawi dan menghabiskan semasa hidupnya disana. Untuk mengenang perajalanan tersebut ada sekitar seribu peziarah berjalan kaki dari desa jugo menuju gunung kawi. Dengan membawa ambengan (gunungan berisi hasil bumi) para peziarah berjalan kaki sekitar kurang lebih 8 jam.

Sumber Instagram (@awalulroziqin)
Sumber Instagram (@awalulroziqin)

Selain ada ketiga acara tersebut yang dilaksanakan oleh peziarah secara sukarela siangnya juga ada kirab ogoh-ogoh, seperti halnya kirab ogoh-ogoh di pulau dewata bali. Ogoh-ogoh yang berbentuk betara kala (kekuatan jahat) setelah selesai di arak keliling area perkampungan akan dibakar. Hal ini sebagai simbol agar kekuatan jahat yang menyelimuti warga gunung kawi akan musnah seperti halnya ogoh-ogoh yang besar. Biasanya kirab ogoh-ogoh ini dilaksakan pada tanggal 1 suro sekitar pukul 09.00. maka dari itu untuk melihat kirab ogoh-ogoh ini anda harus datang lebih awal agar mendapatkan parkiran kendaraan. Karna antusiasme warga sekitar dan juga peziarah yang sudah datang malam hari menyebabkan kemacetan di jalan yang akan diadakan kirab.