Lingkarmalang.com, Monumen Juang 45 – Monumen dibangun untuk memperingati dan juga memperingatkan sebuah tragedi yang pernah menimpa sebuah daerah. Monumen biasanya dibuat sedemikian rupa, dengan keunikan dan rentetan pesan yang diperuntukkan sang pelihat. Salah satu monumen yang seperti itu di Malang adalah Monumen Juang 45.

Monumen yang kerap disebut dengan nama patung buto (raksasa) oleh warga malang ini memiliki pesan tersembunyi. Entah kenapa sang pembuatnya waktu itu memilik untuk memberikan pesan tersirat. Seakan harus ada yang mengerti di balik patung ini pesan luhur yang tersirat. Tak hanya patung dengan cerita raksasa roboh saja, di sekeliling monumen ini ada relief yang berisikan kejadian-kejadian saat perjuangan.

Menurut beberapa sumber yang Lingkar Malang rujuk, monumen dengan raksasa roboh ini menggambarkan perjuangan rakyat mengalahkan penjajah. Penjajah di ganti dengan gambaran raksasa memang sangat tepat. Kedigdayaan penjajah dapat mewakili sifat raksasa besar yang tak terkalahkan.

Di sekeliling raksasa tersebut adalah para pejuang, terlihat dari pakaian yang dikenakan, mayoritas merupakan warga sipil. Namun ada beberapa saja tentara dengan pakaian dinas lapang yang melekat di tubuh. Ini bermakna dalam setiap perjuangan pasti ada keinginan dan bantuan rakyat sipil. Tanpa ada rakyat sipil mustahil dapat mengalahkan raksasa yang perkasa. Mungkin dari sini lah lahir semboyan bersama rakyat TNI kuat.

Di bawah patung tersebut pun dikelilingi relief. Untuk gambarnya juga masih bisa diartikan dengan kasat mata. Karena gambar-gambar perjuangan republik Indonesia tertuang di sana. Mulai perjuangan rakyat secara heroik maupun diplomatik. Diakhiri dengan gambar Bung Karno membacakan proklamasi kemerdekaan. Mungkin inilah akhir dari masa penjajahan secara tersurat. Dan di runtut dengan patung raksasa yang tumbang di tangan para pejuang kemerdekaan.