Lingkarmalang.com, Komunitas – Tuhan tak mungkin pilih kasih dalam menciptakan hambanya, ada yang sempuna secara fisik ada pula yang memiliki kekurangan dalam segi fisik. Hal tersebut tak lantas hamba yang memiliki kekurangan hanya pasrah dan menyendiri. Dari kekurangan tersebut malah menjadi kolaborasi seru dalam sebuah perkumpulan. Salah satu perkumpulan yang menjadi wadah bagi penyandang tuna rungu Kota Malang yaitu Akar Tuli.

Komunitas yang mulai terbentuk bersamaan dengan dibukanya Universitas Brawijaya bagi mahasiswa disabilitas pada tanggal 13 September 2013 ini menjadi tempat berbagi rasa para anggota komunitas. Pastilah ada rasa minder selama bersinggungan dengan khalayak umum, tak jarang mereka diperlakukan tidak menyenangkan dan merasa bingung harus curhat kepada siapa.

Selain sebagai tempat berbagi rasa sesama remaja yang lebih senang disebut tuli daripada tuna rungu tersebut juga menjadi ajang kreatifitas tersendiri. Seperti mengikuti Miss And Mister Deaf International yang digelar tiap tahunnya. Salah satu anggota komunitas ini tak pernah absen untuk mewakili Indonesia di ajang internasional tersebut.

Selain itu mungkin tak jarang Nawak-Nawak Lingkar Malang menemui mereka di CFD jl. Ijen. Tak jarang mereka membuat beberapa selebaran untuk mengajak masyarakat normal untuk belajar Bahasa Isyarat Nasional (Binos). Tujuan mereka tak lain hanya berusaha untuk dimengerti, mereka ingin berkomunikasi dengan orang kebanyakan. Harapan mereka kedepannya khalayak umum sudah mahir berbincang dengan bahasa isyarat, setidaknya mereka ada teman ngobrol meskipun ngobrolnya hanya dengan media tangan.

Dalam komunitas ini tak hanya orang tuli saja, orang awam yang ingin berbicara dan berinteraksi dengan bahasa isyarat pun bisa menjadi hearing atau pendamping kawan-kawan yang tuli. Intinya komunitas ini hanya menjadi mediator bagi orang awam dan orang yang tuli untuk saling memahami. Betapa indahnya dunia jika kita dapat saling memahami.