LINGKARMALANG – Sebelum terkenal Kota Wisatanya, Batu sudah terkenal dengan agrobisnisnya. Perkebunan kopi menjadi salah satu ikon andalannya terutama pada jaman Belanda dahulu. Seperti kita ketahui bersama, VOC yang seringkali bersembunyi di ketiak Belanda gemar sekali membuka perkebunan-perkebunan baru di negeri kita. Salah satu jejak yang ditinggalkan adalah di Kampung Hendrix, kampung yang terletak di kelurahan Ngaglik ini konon katanya dahulu adalah perkebunan Kopi milik warga Belanda yang bernama tuan Hendrix. Warga di kampung ini sebagian besar adalah petani kopi yang menggarap lahan Tuan Hendrix. Seiring perkembangan jaman wilayah kebun Kopi yang dulunya tumbuh subur di nusantara beralih fungsi menjadi berbagai macam fasilitas penunjang saat masa pendudukan Jepang, Masuk pada jaman kemerdekaan berbeda lagi kondisinya, sektor pembangunan lebih difokuskan pada sarana dan prasarana di bidang pariwisata.

Walau mempunyai sejarah yang panjang terhadap dunia perkebunan kopi, namun bisa dikatakan industri perkebunan kopi di Batu masih jauh dari kata kemajuan dan kesuksesan. Hal ini bisa disimpulkan karena ada beberapa permasalahan yang melanda petani kopi di Kota Batu. Adapun beberapa permasalahannya adalah :

Petani Penggarap

Sebagian besar petani kopi di Batu adalah petani penggarap dengan kata lain para petani ini tidak mempunyai lahan sendiri. Sehingga dari segi kesejahteraan bisa dikatakan beberapa masih jauh dari kemapanan.

Hulu dan Hilir Terlalu Jauh

Antara petani kopi dan distributor ataupun pelaku bisnis di bidang kopi terlalu jauh hubungannya sehinggga memungkinkan pihak ketiga untuk bermain di dalam industri ini. Efeknya petani tidak bisa mendapatkan keuntungan yang maksimal sedangkan para pelaku bisnis-pun tidak bisa mendapatkan harga yang cukup murah dan terjangkau.

Produk Lokal Masih Kurang Dikenal

Walau Kota Batu memiliki varian yang begitu beragam dan rasa yang unik. Mulai dari biji Kopi Panderman dan Anjasmoro yang memiliki rasa lemon hingga Kopi Arjuno yang kaya dengan kandungan kalium serta memiliki rasa asam yang berkualitas eksport. Namun pada kenyataannya masih sedikit sekali café ataupun warung kopi yang menjual seduhan biji-biji kopi dari Kota Batu.

Melihat kondisi teresebut pria Asli Kota Batu yang bernama Wahyu EP berinisiatif mendirikan sebuah jaringan yang bernama Roeang Seduh Rakjat. Jaringan ini mengupayakan agar antara petani dan pelaku bisnis bisa bertemu dan berinteraksi langsung agar sama-sama mendapatkan keuntungan. Diasmping itu Roeang Seduh Rakjat ini juga berfungsi sebagai pendampingan para petani dan keluarganya agar bisa mengembangkan kualitas kopi menjadi lebih enak dan berkualitas layak jual dengan harga yang bisa menguntungkan berbagai pihak. (Kartiko.P)