LINGKARMALANG – Perkembangan moda transportasi di negeri ini memang menarik. Ada moda transportasi yang dulu tidak ada namun sekarang muncul seperti berbagai varian transportasi umum berbasis online. Namun adapula moda transportasi umum yang dulu digemari namun kini telah lenyap dimakan jaman contohnya seperti Bemo ataupun Trem.

Sebagian Nawak Lingkar Malang mungkin ada yang belum tahu bahwa di Kota Malang dulu juga ada transportasi umum yang bernama Trem. Jenis transportasi yang menyerupai bentuk mini kereta dan masih memakai tenaga uap ini adalah salah satu transportasi yang digemari terutama bagi mereka yang ingin berpergian jauh.

Trem yang beroperasi Di Kota Malang ini dikuasai oleh sebuah perusahaan asing bernama MSM (Malang Stoomtram Maatchapij). Perusahaan swata ini mulai menancapkan kukunya di Kota Malang pada tahun 1897. Tidak seperti pada jaman sekarang dimana ketika ada moda transportasi baru bisa langsung beroperasi asal ada armada dan perijinan, pada jamannya MS  harus membangun sarana dan prasarana yang harus dibangun secara bertahap. Total seluruh pengerjaan trem ini bisa selesai pada tahun 1908. Adapun jalur yang dibuka pada saat itu adalah :

  1. Tumpang – Singasari(23 km), dibuka 27 April 1901
  2. Gondanglegi – Kepandjen(17 km), dibuka 10 Juni 1900.
  3. Boeloelawang – Gondanglegi(12 km), dibuka 4 Februari 1898.
  4. Malang – Boeloelawang(11 km), dibuka 14 November 1897.
  5. Talok – Dampit(8 km), dibuka 14 Januari 1899.
  6. Gondanglegi – Talok(7 km), dibuka 9 September 1898.
  7. Malang – Blimbing(6 km), dibuka 15 Februari 1903.
  8. Sedajoe – Toeren(1 km), dibuka 25 September 1908.

Walau menyerupai kereta namun jangan membayangkan kecepatan trem menyamai kereta pada jaman sekarang. Untuk menemuh jarak Malang hingga ke dampit saja dibutuhkan waktu kurang lebih 2 jam, bukan hanya tenaganya yang memakai uap namun juga trem ini harus banyak berhenti untuk menaikkan dan menurunkan penumpang serta barang pada setiap perhentian Trem.

Fungsi trem jaman sekarang mungkin lebih menyerupai KRL ataupun commuter yang sering kita jumpai di Kota-kota Besar. Hanya mungkin bedanya Trem di jamannya kerap memotong jalur-jalur utama jalan, termasuk memotong tepat di tengah taman aloen-aloen Kota Malang secara diagonal. (Prasetyo.K)