Lingkarmalang.com, Rekam jejak K.H. Masjkur –  Usaha untuk mempertahankan dan memperjuangkan kemerdekaan acap kali ditempuh dengan dua jalur, yaitu jalur diplomasi dan pertempuran. Sangat jarang pahlawan negeri ini yang ikut mempertahankan dan memperjuangkan kemerdekaan negeri ini dengan dua jalur sekaligus. Hanya beberapa saja yang berjuang dengan dua metode sekaligus. Termasuk K.H. Masjkur yang berasal dari Singosari, Kabupaten Malang ini.

K.H. Masjkur merupakan pahlawan yang totalitas dalam membela kepentingan negeri ini. Mulai sejak zaman penjajahan saja beliau sudah turut berjuang dengan mengangkat senjata ataupun mengangkat pena, hal ini ditengarai tekat beliau yang kuat sehingga semua hal yang dirasa perlu dan bisa dilakukan beliau lakukan dengan ikhlas. Tekat kuat tersebut ditengarai adanya resolusi jihad yang menegaskan bahwa jika membela perjuangan Republik Indonesia merupakan jihad yang sangat dianjurkan agama.

Rekam jejak perjuangan K.H. Masjkur berawal saat tahun 1926, saat itu beliau menjadi ketua Pengurus Cabang NU Malang. Dari organisasi tersebutlah K.H. Masjkur mulai belajar tentang cita-cita bangsa. Sampai pada tahun 1930 K.H. Masjkur mulai menjadi anggota Pengurus Besar NU (PBNU) yang memiliki skala cakupan yang lebih luas yaitu skala nasional. Sampai kemerdekaan Indonesia diplokamirkan K.H. Masjkur menjadi anggota PBNU.

Saat penjajahan Jepang beliau juga mengambil kiprah sebagai serdadu. Mewakili Karesidenan Malang untuk berlatih di bidang kemiliteran, saat itu organisasi kemiliteran bentukan Jepang dibuat untuk menjadi pasukan pembela tanah air (juga disebut tentara PETA). Selain turut mempersiapkan kemerdekaan di bidang militer beliau juga ikut menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), yang merupakan forum untuk merumuskan dasar negara guna mempersiapkan kemerdekaan.

Seakan tak ingin absen dalam berjuang setelah merdeka pun beliau masih ikut ambil bagian dalam perjuangan. Seperti saat adanya peristiwa Agresi Militer, beliau yang saat itu menjadi panglima pasukan Hizbullah Sabilillah (tentara santri) turut mengirimkan pasukan untuk pertempuran di Surabaya pada 10 November 1945. Terlampau banyak lagi jejak perjuangan beliau di daerah maupun di pusat, sampai menjadi menteri agama double kabinet di era orde lama. Jasad pejuang asli Malang tersebut dikebumikan di masjid Bungkuk Singosari. Patut berbangga atas ketangguhan beliau dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan negeri ini.