Gunung Bromo

UMAK – Saya yang bukan asli jawa sangat nyaman berdomisili sementara selama lebih kurang 4 tahun di pulau jawa khususnya Malang. Selama berdomisili di Malang saya sudah ke bromo sepuluh kali, baik bersama teman saya yang datang dari sumatera maupun teman saya yang sekitaran malang. Saya sangat senang bagi siapa saja yang ingin ke Malang selalu saya antar ke bromo dan mereka semua sangat puas dengan keindahan Bromo. Pada edisi yang terakhir saya ke bromo adalah edisi yang paling istimewa menurut saya. Dimana saat itu untuk pertama kalinya saya membawa adik perempuan saya yang datang langsung dari sumatera untuk berangkat ke Bromo. Adik saya yang baru pertama kali ke malang sangat senang saat saya ajak ke Bromo. Kami berangkat berdua menggunakan motor sekitar pukul 23.00 wib.

Saya lebih tertarik menggunakan motor karena menurut saya lebih santai dan tidak dikejar-kejar waktu. Diperjalanan sebenarnya saya sedikit khawatir karena kami berangkat bukan disaat weekend. Diperjalanan hanya menjumpai 2 motor yang juga ke Bromo. Tapi dengan modal doa dan motor yang sudah disiapkan alhamdulillah perjalanan tidak ada kendala. Saat naik di penenjakan untuk melihat sunrise saya sangat berharap tidak terlalu banyak kabut sehingga gunung bromo terlihat jelas. Alhamdulillah kabut hanya menutupi bromo sekitar 30 menit setelah itu cerah sehingga saat dipenanjakan sangat pas untuk berfoto. Dipenanjakan kami sengaja berlama-lama disana sampai keadaan sepi agar lebih enak untuk memilih spot foto.

Setelah puas berfoto kami turun ke lautan pasir Bromo dan berhenti sejenak untuk berfoto dan dilanjutkan menuju kawah Bromo. Perjalanan menuju kawah Bromo sangat melelahkan dengan menaiki anak tangga yang cukup banyak. Saat menaiki kawah bromo dan turun dari kawah bromo seperti biasa banyak bapak pembawa kuda yang menawarkan untuk menaiki kuda. Akan tetapi pada saat itu kami hanya menaiki kuda hanya untuk berfoto saja bukan untuk naik maupun turun dari kawah. Setelah turun dari kawah kami berfoto menaiki kuda yang di fotokan oleh bapak pembawa kuda.

Selanjutnya kami teruskan perjalanan memutar gunung bromo untuk menuju bukit teletubbies. Sesampainya disana kami sangat memanfaatkan waktu yang tersisa karena baterai kamera sudah mulai habis hehe. Lagi lagi kami menaiki kuda hanya untuk sekedar berfoto. Pada saat dibukit teletubbies ini adalah salah satu spot yang paling saya sukai karena disini penuh dengan rerumputan hijau dan sangat bagus untuk spot foto. Setelah spot terakhir di bukit teletubbies merasa cukup, kamipun memutuskan untuk pulang dengan cuaca yang mendung dan sudah mulai turun hujan. Perjalanan kesupuluh ini adalah perjalanan yang mengesankan, tapi sayang saya belum bisa mengajak kakak dan orangtua saya dikarenakan mereka pulang lebih awal ke sumatera. Harapan saya kedepannya nanti bisa membawa keluarga ke Bromo lagi. Aamiin.

Kiriman Dari : [email protected]