Lingkarmalang.com, Kayu Tangan – Sudah menjadi rahasia umum jika Malang merupakan kota yang nyaman untuk dijadikan tempat berdomisili, hal ini tidak hanya akhir-akhir ini saja, jauh sebelum kemerdekaan Indonesia para warga nusantara acapkali menempatkan Kota Malang menjadi tempat piknik. Tak jarang pula yang ketagihan untuk berlama-lama di Kota Malang sehingga membeli rumah di sini. Menurut catatan sejarah pada tahun 1914 Malang dihuni tiga kelas masyarakat dan ketiga kelas tersebut menempati 3 daerah berbeda. Pertama kelas Eropa menempati daerah Talun, Tongan, Sawahan, Kayu Tangan, Oro-oro dowo dan sekitarnya, Kelas timur asing terpusat di daerah sekitar Pasar Besar, dan kelas terakhir adalah kelas warga pribumi tersebar di luar daerah-daerah tersebut.

Bila berfokus sedikit tentang daerah yang di prioritaskan untuk warga Eropa pastilah akan tertata rapi dengan arsitektur yang baik. Salah satu contohnya di Kayu Tangan (sepanjang jalan mulai dari PLN sampai pertigaan Kayu Tangan), di tempat ini menjadi perumahan elit para warga Eropa. Banyak foto-foto lawas dan catatan sejarah yang menyinggung kemegahan Kayu Tangan. Bersolek dengan aksen-aksen rumah khas Eropa beratap datar dan berbentuk kubus.


Kemewahan Kayu Tangan sebagai hunian yang diidamkan kalangan tajir di Kota Malang bertahan cukup lama. Hingga Indonesia merdeka pun masih terjaga kemegahan rumah para kolonial dan serentetan toko yang menjadi tempat hingar-bingar warga Malang. “Sekira sampai punahnya kendaraan bernama bemo pamor Kayu Tangan mulai luntur” ucap pak Hardi sebagai warga asli Kayu Tangan. Mungkin saat itu pamor wisata belanja sudah beralih ke berbagai pusat perbelanjaan yang ada di sekeliling Alun-Alun Merdeka. Sehingga saat ini hanya tinggal jalan raya yang luas dan gotic-nya gereja katolik sebagai saksi sejarah, bahwa lokasi tersebut pernah menjadi hunian idaman di masa silam.