Lingkarmalang.com, Karaeng Galesong – Kisah perjuangan memang tak ada hentinya, tak terbayang bagaimana rasanya terjajah sampai 5 generasi. Tiap harinya pasti ada perlawanan, sampai-sampai ada yang terdampar di sebuah wilayah yang sangat jauh dari rumah. Salah satunya adalah pejuang bugis yang bernama Karaeng Galesong.

Saat abad ke-16 terjadilah pertempuran maritim yang dipimpin oleh seorang bangsawan bernama lengkap I Maninrori I Kari Tojeng Karaeng Galesong (selanjutnya disebut Karaeng Galesong). Seperti kebanyakan suku bugis, Karaeng Galesong sangat mahir melaut dan pertempuran maritimnya sampai antar pulau. Ditambah lagi memang seorang keturunan dari Sultan Hasanudin, membuat keberaniannya masih mendarah daging dari sang ayah. Kedua hal itulah yang membuat beliau dipercaya menjadi Laksamana Angkatan Laut kerajaan Gowa.

Singkat cerita beliau diamanatkan untuk melawan konglomerasi dagang Belanda yang bernama VOC. Pertempuran hebat pun terjadi, apalagi dari kerajaan Gowa sudah menyatakan menyerah melalui perjanjian lontara bernama Perjanjian Bongaya. VOC bersekutu dengan kerajaan Bone yang bertetangga dengan Gowa, maka dari itu Karaeng Galesong bersama Bonto Marannu tetap ingin melakukan pertempuran di Laut jawa bersekutu dengan Pangeran Trunojoyo dan Sultan Ageng Tirtayasa.

Pasukan VOC dengan peralatan tempur yang canggih berhasil mendesak sekelompok pejuang dari kerajaan Gowa tersebut. Sampailah mereka pada area kekuasaan Pangeran Trunojoyo dan memutuskan untuk singgah sementara sembari menunggu pasukan VOC lemah. Namun nahas tak bisa ditepis, laksamana Gowa tersebut mulai sakit-sakitan.

Maka seluruh kelompok pejuang dari Sulawesi tersebut memilih untuk singgah lebih lama, sampai pada tanggal 21 November 1679 Karaeng Galesong menghembuskan nafas terakhirnya tepat sebelum Trunojoyo tertangkap pasukan Belanda.

Saat itu pula Karaeng Galesong dikebumikan di Ngantang. Karena memang tempat menghembuskan nafas terakhirnya di sana. Ada versi lain yang mengatakan Ngantang merupakan lokasi pelariannya, sengaja memilih dataran tinggi agar pasukan VOC susah untuk menemukan. Pemakaman tersebut saat ini bernama Astana Karaeng Galesong, lokasinya secara administratif berada di Dusun Kebonsari Desa Sumberagung Ngantang Kabupaten Malang.