Lingkarmalang.com, Kebonagung – Pabrik gula Kebonagung merupakan pabrik yang sangat kuno dan sudah menjadi lumrah namanya di tengah warga Malang. Bagaimana tidak seakan sudah menjadi tradisi setiap buka dan tutup giling seakan pabrik tersebut menjadi tempat pesta rakyat. Berbagai pertunjukan untuk menghibur warga sekitar didatangkan oleh pihak pengelola pabrik. Entah sudah berapa ribu masyarakat yang terhibur pada setiap tahunnya.

Berawal dari tahun 1905 pengusaha bernama Tan Tjwan Bie mulai dibangun pabrik gula. Awal mula pengelolaannya dilakukan secara perorangan oleh Tan, sampai pada 12 tahun setelah berdiri pengelolaan dilakukan secara menejemen profesional. Karenanya NV. Handel Landbouw Maatschappij Tiedeman & van Kerchem sebagai biro pengelola pabrik gula profesional. Setahun berlalu setelah peralihan sistem menejemen tersebut diuruslah akta notaris untuk dasar hukum dengan nama NV. Siuker Fabriek Kebon Agung tertanggal 20 Maret 1918.

Pada saat masa penjajahan Belanda gula merupakan komoditas yang sangat berharga, kapasitas ekspor gula dari nusantara pun mendominasi dunia kedua setelah kuba. Singkat kata karena ada krisis harga gula yang tiba-tiba merosot pada tahun 1931, karena hal itu perusahaan rugi besar dan memilih untuk menggadaikan seluruh sahamnya ke De Javasche Bank Malang. Selang 3 tahun semenjak penggadaian tersebut pabrik gula NV. (SF) Kebon agung sepenuhnya milik bank penjamin.

Keberadaan komoditas gula sampai peralihan kekuasaan Indonesia yang semulanya dimiliki oleh pemerintah Belanda beralih ke pemerintah Jepang cenderung berjalan pincang. Karena memang sentimen negatif kepemilikan perusahaan pemerintah pada saat itu sedang gencar. Bahkan pada saat pemerintahan Jepang pabrik ini berubah menjadi pabrik penggilingan batu. Memang pada waktu itu barang konsumsi belum sepenuhnya dibutuhkan, karena alur pengiriman masih belum tersusun.

Setelah itu pada masa kemerdekaan semua pabrik gula semasa kolonial diambil alih oleh pemerintah melalui Badan Penyelenggara Perusahaan Gula Negara (BPPGN). Dengan beralihnya PG Kebonagung kepada negara maka pengelolaannya dilangsungkan oleh negara pula. Hingga sampai saat ini meskipun termasuk sebagai perusahaan bahan pokok, saham PG Kebonagung dimiliki oleh Yayasan Kesejahteraan Karyawan Bank Indonesia dan Koperasi Karyawan Pabrik.