LINGKARMALANG – Jauh bertahun-tahun lalu bahkan sejak jaman Indonesia belum merdeka, daerah ini sudah ditetapkan sebagai cagar alam. Buktinya adalah diterbitkannya Besluit van den Gouverneur Generaal van Nederlandsch Indie No : 69 dan No.46 tanggal 15 Maret 1928 tentang Aanwijzing van het natourmonument Poelau Sempoe dengan luas 877 ha. Cagar alam sendiri menurut Undang- undang yang berlaku saat ini yaitu Undang-Undang no 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem adalah kawasan suaka alam, karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa, dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. Dimana dijelaskan kembali pada pasal 17 bahwa Di dalam cagar alam hanya dapat dilakukan kegiatan untuk kepentingan penelitian dan pengembangan, ilmu pengetahuan, pendidikan dan kegiatan lainnya yang menunjang budidaya.

Dalam undang-undang diatas sebenarnya sudah sangat jelas bahwa Pulau Sempu secara guna fungsinya adalah untuk pelestarian alam dan sebagai habitat alami hewan – hewan endemik yang ada disana. Namun mirisnya entah sejak dari tahun berapa ini diimulai, kawasan Sempu mulai dijajah oleh para wisatawan yang ingin menikmati indahnya alam lestari yang berada di pulau itu. Tak hanya itu beberapa fasilitas seperti pemandu wisata lokal ataupun sarana perahu disediakan pula untuk menunjang wisata ke Pulau Sempu.

Kadang saya sering menganalogikan posisi hewan yang hidup disana seperti manusia yang terinvasi oleh alien. Berbagai film besutan hollywood tak jarang mengisahkan tentang serangan alien ke bumi, tak berdiam diri manusia sebagai penduduk yang berhabitat asli di bumi kembali menyerang kembali alien yang ingin mengambil rumahnya di bumi. Inilah bedanya kita dengan hewan yang ada di Pulau Sempu, hewan yang ada disana hanya bisa pasrah melihat para wisatawan dengan seenaknya membuang sampah atau merusak rumah yang mereka tinggali disana tanpa bisa menyerang kembali.

Tak bisa dipungkiri Pulau Sempu memang cantik bahkan bisa dikatakan teramat cantik. Namun bila boleh sedikit berpendapat, ada kalanya memang kita harus sedikit mengerem nafsu berwisata kita dan sedikit berempati pada hewan yang hidup disana. Ini bukan hanya masalah kelestarian hayati tapi juga sebuah mimpi besar agar anak cucu kita kelak masih bisa melihat secara nyata pelbagai hewan yang kini sudah nyaris punah bukan hanya dari sekedar dongeng belaka.(Kartiko.P)