Lingkarmalang.com, Ijen Boulevard – Masa penjajahan Belanda tak melulu tentang kepedihan, pastilah ada beberapa blok yang mereka kuasai dan pasti infrastrukturnya membuat geleng kepala. Salah satunya teknik perancangan kota yang masih terjaga sampai sekarang yaitu Jalan Ijen. Jalan yang tiap hari minggu menutup diri dari ganasnya polusi knalpot motor ini ternyata telah eksis mulai sejak dahulu.

Perencanaan yang sempurna dicurahkan untuk para noni dan meneer pemilik perumahan elit tersebut. Perumahan elit yang menjadi buah ide dari Ir. Herman Thomas Karsten ini tak hanya ada di Jalan Ijen saja. Semua jalan yang mencomot nama gunung di sekitar Jalan Ijen merupakan hasil karyanya. Maka jangan heran ketika anda berjalan-jalan melintas di sekitar Jalan Ijen rumahnya memiliki bentuk arsitektur kembar. Namanya juga perumahan pastilah ada bentuk yang mirip di setiap bloknya.

Kesimpulan bahwa perumahan ini merupakan hunian asri bagi para ekspatriat belanda dapat dilihat dari bentuk rumah yang ada di sekitar sini. Sangat kental dengan hunian eropa kuno. Di sisi lain adanya beberapa gereja yang terkesan gotic di persimpangan Jalan Besar Ijen dan Jalan Buring. Selain rumah ibadah ada pula tempat pacuan kuda yang saat ini sudah menjadi Poltekes. Hal ini pula yang menjadi latar belakang bunderan depannya dinamakan Simpang Balapan. Karena pintu utama dari tempat pacuan kuda ada di sana.

Maka dari itu sampai saat ini kawasan Jalan Ijen menjadi cagar budaya dalam hal arsitektur. Maka dari itu para pemilik rumah di sekitar Jalan Ijen harus melapor jika ingin memugar. Meskipun rumah tersebut adalah rumahnya sendiri. Dan juga Nawak-Nawak Lingkar Malang jangan heran jika ada warga Belanda asli yang jalan-jalan di sekitar Jalan Ijen. Mungkin mereka ingin bernostalgia dengan beberapa bentuk rumah yang bentuk bangunannya masih terjaga hingga kini.