Lingkarmalang.com, Kota Malang – Malang yang juga terkenal sebagai Kota pendidikan pastinya juga mengundang banyak calon mahasiswa, baik mahasiswa dari luar kota, luar pulau bahkan ada beberapa yang dari luar negeri. Bisa dikatakan pertumbuhan mahasiswa di Kota Malang dari tahun ke tahun semakin meningkat mengikuti PAGU dan  kapasitas masing-masing universitas yang setiap tahun selalu bertambah.

Harusnya warga Malang bangga dan  merasa aman dengan hadirnya puluhan ribuan mahasiswa baru setiap tahunnya. Karena pada hakikatnya seperti yang selalu ditanamakan di setiap orientasi mahasiswa baru, di dalam tubuh mahasiswa ada tiga unsur yang wajib diemban oleh mahasiswa untuk diaplikasikan kepada masyarakat sekitarnya yaitu, mahasiswa sebagai agen perubahan terhadap kondisi masyarakat agar selalu dinamis yang biasa disebut sebagai agent of change, mahasiswa sebagai generasi penerus pribadi bangsa yang berkahlak dan beretika atau sering disebut sebagai Iron stock, dan yang terakhir mahasiswa sebagai panutan dan kontrol sosial untuk perilaku yang baik atau diistilahkan sebagai social control.

Ditengah harapan masyarakat terhadap serbuan ribuan mahasiswa yang menantikan membawa kondisi malang menjadi lebih baik,  ada suatu peristiwa kecil yang sangat mengganggu dan menjadikan pertanyaan apakah ketiga unsur diatas adalah benar-benar identitas dari mahasiswa atau hanya ocehan rutin senior kepada juniornya saat orientasi mahasiswa baru.

Peristiwa yang berulang-ulang selalu dilakukan dan akhirnya menjadi kebiasaan ini kalo boleh redaksi memberikan judul adalah “dilarang putar balik”. Sepertinya hal ini memang sangat sepele bahkan mungkin remeh, namun ini menjadi unik ketika kejadian ini terjadi di depan universitas terbesar dan paling diminati di Kota ini.

Detail peristiwa yang menjadi kebiasaan ini adalah sebagai berikut :

Sekitar dua tahun yang lalu, pemerintah kota Malang membuat kebijakan untuk melarang putar balik pada U turn di depan gerbang universitas Brawijaya Malang. namun terlihat banyak sekali warga pengguna kendaraan yang melanggar, hingga seiring waktu pihak kepolisian memberi pembatas di  jalur teresebut agar hanya cukup dilewati oleh satu mobil saja, yaitu dari jalur seberang universitas Brawijaya. Bukannya semakin menuruti rambu yang dipasang,hingga saat ini para penggguna jalan ini malah tetap menerobos jalur forbidden yang telah ditetapkan oleh pihak kepolisian tersebut . Yang lebih menyakitkan lagi, sebagian besar mereka yang menerabas rambu ini adalah para mahasiswa yang sedang aktiif menimba ilmu di uneversistas terkemuka di Kota Malang ini.  

Tentunya kepolisian ataupun pemerintah kota bukan tanpa alasan membuat regulasi tentang larangan putar balik, marilah generasi penerus bangsa yang bernama mahasiswa menyikapi masalah ini dengan bijak minimal memberikan contoh untuk berlaku yang benar waluapun hal itu sepele seperti taat berlalu lintas. ( Kartiko)