Entah kenapa Pesona Gunung Bromo Tengger Semeru selalu memaksaku untuk kembali dan kembali lagi menikmati maha besar surga dunia ciptaanNya ini. Awal pertama kali menginjakkan sepatu di tanah Gunung Bromo pada tahun 2013-2014. Masih ingat betul saat itu saya masih fresh-freshnya menyandang status mahasiswa baru di Universitas Brawijaya, Malang. Perjalanan pertama saya ke Gunung Bromo diajak teman-teman saya di suatu Organisasi yang ad di fakultas saya, FTP. “Yashhh..!”  mendadak, atau dadakan selalu menjadi ciri khas saya kalau ngetrip wkwk. Oke tepatnya kurang lebih kami ber-8 berangkat dari Malang kota menuju Bromo tepat pukul 22.00 WIB. Rute yang kami pilih ialah lewat jalur Probolinggo yang nantinya melalui pintu masuk Cemoro Lawang.

Kurang lebih tepat pukul 03.00-04.00 WIB kami sampai di kawasan pasir berbisik. Kemana tujuan kami? Yeah!! mengejar sunrise!. Minimnya bahkan memang tak ada penerangan jalan di kawasan lautan pasir memaksa kami untuk ekstra kerja keras dalam hal pandangan. Sebab, hanya ada cahaya yang berasal dari kendaraan. tak hanya permasalahan cahaya ataupun medannya. Yap! suhu yang super duper gila juga menjadi tantangan yang paling menarik untuk kami dan saya pribadi yang sedang mengejar cinta (sunrise). Beberapa menit kami habiskan di lautan pasir, kali ini kami mem-fixkan untuk menikmati sunrise dari Pananjakan. Yah ternyata kami salah jalur. Kami ingin melihat sunrise di pananjakan tapi melewati rute cemoro lawang. Tentu kendaraan kami tak bisa menjangkau medan untuk sampai di pananjakan. 

Awalnya sedih iya. But?  masih ada opsi lain. Akhirnya kami kembali ke zona lautan pasir dan memilih untuk menikmati kawasan kawah Gunung Bromo. Sesampainya di area kawah kami langsung memarkirkan kendaraan kami dan mulai mendaki gunung lewati lembah bersama kita berpetualang. ehhhh.. malah nyanyi. Okeee jalan kaki, sesampai di tangga yahhhh tinggi banget yak. Oke, saya mulai menghitung satu demi satu tangga yangsaya pijaki dan ditengah2.. wow! so amazing!! sumpah! kl saya pernah liat foto-foto di atas puncak gunung nahhhh itu gaes! dannn kabutnya yang menyelimuti lautan pasir dannnnn sinar emas nan elok yang mulai menampakkan wujudnya. Subhanallah maha agung Engkau Ya Tuhanku, surga dunia ciptaanMu sungguh tiada tandingannya. Damn! oke ini lah cinta yang aku temukan, cinta yang aku rasakan, cintaku yang sesungguhnya bersemayam di kawah Gunung Bromo bersama indahnya pancaran cahaya sang fajar yang terbangun.

Masih ingat betul, perjalanan saya ke Bromo untuk kedua kalinya adalah pada bulan November 2014. kali ini sayan ke Gunung Bromo bersama teman kuliah saya satu kelas. Rame-rame? ya jelas, pasti! rute yang kami ambil kali ini melewati Pasuruan. Tujuan kami lsg ke pananjakan yahh yang pasti tetap mengejar cinta sang fajar wkwk. Okee singkat kata sesampai di pananjakan entah kenapa saya kurang excited sama suasana disana. Bagus, memang. Ya tapi…, mungkin karena saya sudah dibuat jatuh cinta untuk pertama kalinya di kawah Gunung Bromo pada perjalanan sebelumnya kali yakk. Setelah kami berpuas ria menikmati keindahan di pananjakan lalu kami turun menuju kawah. Yahh udah mulai terik naik kawah? no! mending saya dibawah jaga motor sambil nikmati pmandangan lautan pasir yang dikelilingi bukit-bukit nan gagah itu.

Nahhh.. ini perjalanan saya yang ketiga kalinya ke Bromo. Yaps! baru saja bulan kemarin saya ber enam dengan agenda yang selalu dadakan meluncur untuk menikmati kecantikan dan ketampanan Bromo. “ga bosen apa, km ke Bromo terus?” eitsss, kan saya sudah bilang.. Karena saya menemukan cinta di Bromo lantas kenapa saya bosan kalau sejatinya saya dibuat merindu terus akan pesonanya yang menawan. Oke, kali ini kami tetap mengambil rute Pasuruan dan memburu sunrise. Jreng.. jreng… sesampainya di pertigaan antara ke pananjakan dan lautan pasir, kami lebih memilih menikmati sunrise di kawah lohh. Di perjalanan yapp medan menyerang kami, kabut yang makin memperparah pandangan yang keterbatasan penerangan jalan dan zona pasir yang berbahaya karena dalam keadaan kabut tebal pandangan kita akan terbatas sehingga kita mungkin bisa saja terperosok ke jurang karena lautan pasir juga terdapat zona berbahaya salah satunya jurang ini. Oke beberapa menit kami habiskan lagi untuk muter-muter mencari rute menuju kawah. samapi suatu ketika kami dihampiri 2 penduduk sekitar yang menawarkan untuk menjadi guide menuju ke kawah. Yahhhh namanya juga kami mahasiswa yak. Tentunya kami menolak tawaran itu, alias hemat ongkos wkwk. okee kami punya solusi untuk ini. Jangan gelisah, takut, cemas, maupun gundah gulana saat berada di zona lautan pasir yang medannya seperti ini. Pada punya hape canggih kan? nahhhh gunakan GPS untuk negikuti rute yang akan mengantarkan kita ke kawah. Gak percaya? sinyal dari mana? eits tenang…, meskipun di daerah gunung, Bromo kini sudah support jaringan lochh.. yang lagi hits-hitsnya live IG jangan khawatir, lancar jaya boskuhhhh. Karena aku sudah mencoba dan menikmatinya wkwk. 

Okeee true! kecantikan fajar di kawah kini ia tujukkan lagi kepada kami dan saya tentunya yang semakin dibuat jatuh cinta tiada henti. Seperti foto yang saya post di cerita saya ini, saya mengambilnya tepat di tengah pendakian menuju kawah. Setelah kami menghabiskan kenikmatan di kawah lalu kami melanjutkan perjalanan pulang ke Malang melewati rute Tumpang sama seperti perjalanan saya sebelumnya yang selalu memilih rute Tumpang untuk perjalanan pulang. Karena kami ingin menikmati surga dunia yang sering disebut bukit teletubies juga padang savananya Bromo. Ntah lah saya harus ngomong apa lagi kehabisan kata-kata. tiada hentinya saya berucap syukur atas ciptanNya ini. Jangan lupa abadikan moment selama berada di kawasan Bromo Tengger Semeru agar kalian selalu merasakan bahwa pernah mencintai dan dicitai suatu surga dunia yang mungkin jarang bisa kalian temui. Eitsss cuma pesen tetap jaga kelestarian yak dimanapun kita berada, jaga dan lindungi jgn dirusak. Simpan untuk anak cucu kita. Sederhana saja, bawa pulang sampahmu intine ojok nyampah, sam! wkwk.. nuwus lop kerr.

 

“jangan meninggalkan apapun kecuali jejak”

“jangan mengambil apapun kecuali gambar” dan

“jangan membunuh apapun kecuali kenangan.. ehhh salah, WAKTU mksudnya” hehehe..

 

by: Galuh Darmesthi aka Ega

IG: @egastagramm