Lingkarmalang.com, Malang Raya – Malangkucecwara mungkin bagi pendatang di Malang hanya tahu sebagai nama salah satu sekolah tinggi ekonomi yang terletak di seberang pasar Blimbing. Sangat jarang yang mengetahui makna dan filosofi ataupun sejarah dari semboyan yang acapkali diketemukan dalam lambang Kota Malang. Maka dari itu kali ini Lingkar Malang ingin memberikan penjelasan semboyan Malang Kucecwara tersebut dari sisi filosofi makna dan juga sejarah.

Malangkucecwara memiliki makna yang dalam, nama ini sebetulnya diambil dari bahasa sansekerta yang memiliki arti: mala berarti keburukan; Angkuca berarti akan musnah; Icwara berarti tuhan. Jadi bila digabungkan makna kata yang terpenggal menjadi tiga tersebut adalah keburukan akan musnah oleh tuhan. Hal ini tertulis dalam prasasti yang ada di gunung Buring, banyak yang menyangka pada suatu versi kemunculan Malang, gunung ini merupakan asal-usul Malang.

Terlepas dari asal-usul semboyan Malang yang masih kontroversial tersebut, sejarah pemberian semboyan bukan dari petinggi Malang melainkan dari seorang ilmuwan yang bernama Prof. Dr. Raden Mas Ngabehi Poerbatjaraka. Perlu untuk diketahui bahwa beliau ini bukan orang sembarangan, merupakan profesor dalam disiplin ilmu kesusastraan jawa. Entah bagaimana sang profesor yang ahli dalam bahasa sansekerta tersebut menganugerahkan semboyan yang sakral.

Mungkin saat bertugas pada museum Gajah di Batavia, beliau pernah melakukan manuskrip dan katalogisasi naskah-naskah kuno jawa. Dari sana mungkin berbagai manuskripyang pernah beliau temui sudah merasuk ke dalam otak. Sampailah pada tahun 1964 semboyan tersebut diresmikan, pada saat peringatan 50 tahun berdirinya kota malang melalui keputusan DPRD no. 7 tertanggal 10 April 1964. Hingga saat ini semboyan tersebut telah mengakar di Kota Malang, entah sampai berapa lama. Setidaknya semboyan tersebut telah menjadi doa bagi Kota Malang agar kebathilan musnah di tangan Tuhan yang Maha Esa.