LINGKARMALANG – Hampir sepuluh tahun yang lalu tepatnya pada tahun 2006, dimulailah sebuah inovasi baru yang cukup menyedot animo masyarakat Malang yaitu Festival Malang Tempo Doeloe atau yang sering disebut juga sebagai Festival Malang Kembali. Acara ini cukup menyita perhatian warga Kota Malang karena berani menampilkan nuansa tempo dulu yang benar-benar totalitas. Berlangsung tiga hingga empat hari, event ini menutup jalan raya sepanjang jalan simpang balapan hingga Jalan Ijen. Tidak cukup sampai disana, selain semua kendaraan dilarang masuk. Pada event ini juga tidak diperkenankan adanya nyala listrik.

Melihat suksesnya perhelatan Malang Tempo Doeloe pada tahun 2006, penyelenggara bermaksud mengadakan acara ini secara rutin. Acara ini kembali diselenggarakan pada tahun 2008, masih dengan  kemasan dan design yang sama hanya ada sedikit evaluasi disana sini. Menambal kekurangan pada event yang lalu. Sesuai harapan event ini mendulang gemilangnya sukses yang sama seperti pada tahun yang lalu.  Pada tahun 2011 Malang Tempo Doeloe kembali dilaksanakan kali ini mengusung tema “Discovering Heritage”  yang lebih terkonsep dan bertema. Di periode selanjutnya Malang Tempo Doloe yang seharusnya diadakan pada tahun 2013 terpaksa diundur menjadi tahun 2014 karena bertepatan dengan pemilihan kepala dareah  Kota Malang.  Di 2014, setelah ramai tentang boleh tidaknya acara ini berlangsung akhirnya acara ini lolos juga namun tidak berjalan seperti tahun-tahun sebelumnya. Acara yang bertajuk “Satoes Akoe Satoes Lakoe”  ini hanya berjalan sehari dan tidak menutup jalan seperti sebelum-belumnya, alhasil pada tahun tersebut festival yang telah lama dinanti ini tidak semeriah pada tahun-tahun sebelumnya.

Tahun 2014 ini akhirnya juga menjadi akhir hayat dari Festival Malang Kembali, dari tahun ini hingga sekarang tak pernah lagi terdengar kabar akan dihidupkannya kembali festival ini.  Tak bisa dipungkiri hal ini sebenarnya cukup membuat kami sebagai warga Malang bersedih, Festival Malang Kembali bukan hanya sebuah pesta rakyat tapi juga edukasi tentang sejarah kota ini. (Kartiko.P)