LINGKARMALANG – Siapa sangka sebuah dusun kecil di Kota wisata Batu ini bisa menyedot perhatian nasional. Yang lebih ajaib lagi dusun yang bernama Brau di daerah Bumiaji ini bisa meraih beberapa penghargaan tingkat nasional akibat pengelolaan kotoran sapi yang bisa disulap menjadi bahan bakar rumah tangga. Setelah tim Lingkar Malang meninjau langsung ke lapangan ternyata warga Brau ini penuh potensi yang sangat unik dan mempunyai manfaat bagi khalayak umum. Adapun potensinya adalah:

Biogas dan Bioslurry

Dahulu kala dusun ini terkenal dengan sampah  kotoran hewannya yang  menumpuk. Berbekal dengan kegigihannya untuk menciptakan kondisi lingkungan yang lebih bersahabat dan sehat, Yuli Sugihartati dengan kelompoknya mencoba memperkenalkan apa yang disebut dengan Biogas. Biogas sendiri adalah salah satu alternatif untuk mengelola kotoran hewan agar bisa dijadikan bahan bakar melalui proses fermentasi. Dan salah satu hasil dari proses tersebut adalah bioslurry yang bisa digunakan sebagai pupuk. Butuh waktu yang tidak  singkat untuk bisa meyakinkan masyarakat akan guna Biogas dan Bioslurry namun berkat ketekunan dan ketelatenan Yuli Sugihartati akhirnya konsep ini bisa diterapkan oleh warga, bahkan kini desa ini menjadi proyek percontohan bagi  desa yang lain.

Aneka Olahan Susu

Berhasil dengan gebrakan Biogas dan Biosluurry dusun ini terus mengembangkan potensinya. Kali ini desa ini ingin mengolah  berbagai bentuk olahan dari sapi perah mereka yang jumlahnya melebihi warga dusunnya yaitu susu sapi. Berbekal dari bantuan pemerintah dan berbagai pelatihan akhirnya dusun ini bisa memproduksi aneka olahan susu seperti stick susu  hingga pada kerupuk susu.

Wisata alam Puncak Pandawa

Kurang lebih satu minggu yang lalu warga dusun ini secara mandiri didukung oleh  perhutani meresmikan sebuah obyek wisata baru bernama Puncak Pandawa. Dinamakan sebagai Puncak Pandawa karena selain destinasi ini menampilkan wisata swafoto dengan latar kota Batu dan Malang dari ketinggian Nawak Lingkar Malang  juga bisa berwisata sejarah  dengan mengunjungi lima gua yang dulu digunakan para pejuang untuk berlindung  dari  penjajah.

Inilah yang menyebabkan dusun kecil ini  dikenal sampai tingkat nasional. Walau masih manyandang nama dusun sebagai bagian terkecil dari sebuah desa namun harus diakui prestasi dusun ini melebihi apa yang pernah dicapai oleh warga lain yang notabene lebih dekat pada kemajuan teknologi dan perkembangan jaman. (Kartiko)