LINGKARMALANG – Selain kota dengan ribuan destinasi pariwisata Malang juga merupakan kota yang memiliki rekam jejak sejarah. sejarah kolonial ataupun sejarah kerajaan pernah mampir di Malang Raya. salah satu peninggalan sejarahnya yaitu adanya beberapa situs yang masih terjaga sampai detik ini. situs-situs tersebut ada yang masih tetap terjaga oleh masyarakat setempat. ada pula yang sudah diamankan di beberapa museum. salah satu situs yang masih awet di tempatnya yaitu situs watu gong. entah ini adalah tempat pindahan dari jl. Watugong Dinoyo atau memang dari dahulu berada di tempat ini. yang jelas situs ini dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai benda keramat yang harus dijaga dan di rawat dengan baik.

menurut beberapa referensi situs watugong sendiri tersebar di dua lokasi lokasi pertama di belakang Mc D disamping Universitas Brawijaya dan lokasi kedua di Jl. Kanjuruhan gang IV Kelurahan Tlogomas. jika anda ingin mengunjungi situs pertama sangat sulit di temukan, karena terletak di belakang warung siap saji dan anda harus rela masuk ke tempat parkir tentunya. lain halnya jika anda ingin berkunjung ke situs yang terletak di dekat perumahan Joyogrand, pengunjung hanya diwajibkan untuk mencari letak Jalan Kanjuruhan Gang IV saja. lokasi situs di samping jalan dan jika ingin masuk cukup bertanya ke samping kiri dan kanan pagar tembok situs Watugong.

asal usul kedua peninggalan sejarah yang bernama sama ini sebetulnya sangat jauh berbeda.situs Watugong yang pertama dipercaya masyarakat merupakan batu yang dibentuk pada saat zaman megalitikum. entah fungsi dan kegunaannya apa sampai saat ini banyak pakar yang mencari asal usul di buatnya situs tersebut. berbeda dengan situs Watugong kedua di Kelurarahn Tlogomas. batu yang berbetuk gong di situs ini berjumlah tujuh yang di temukan oleh sepasang suami istri yang bernama Mbah Nambi dan Mbah Rekso. terlepas dari perbedaan kedua situs yang bernama sama ini patut di jadikan pelajaran tersendiri bagi warga malang dalam menambah ilmu pengetahuan terutama di bidang sejarah. (Pungkas.P)