Lingkarmalang.com, Kota Malang – Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang dinamakan dengan Vandalisme adalah perbuatan merusak dan menghancurkan hasil karya seni dan barang berharga lainnya (keindahan alam dan sebagainya). Bahasa paling gampang, awam dan mudah dicerna untuk Vandalisme menurut saya adalah kegiatan coret mencoret yang sering pula kita temui di setiap sudut bahkan pusat Kota Malang.

Sebelum bicara tentang kegiatan coret mencoret yang sedang marak di kota ini, saya ingin mempertegas bahwa mungkin kegiatan coret mncoret ini bisa dikelompokkan menjadi dua terlebih dahulu. Yaitu yang legal dan tak legal. Kegiatan meninggalkan jejak gambar yang legal misalnya seperti di Kampung Warna-Warni atau di flyover Arjosari yang memang telah di acc oleh Pemerintah Kota dan bertujuan untuk mewarnai keindahan Kota Malang.

Nah saya ingin fokus terhadap kasus menggambar sudut- sudut Kota yang dilakukan secara ilegal. Entah apakah ini bisa dikatakan sebagai penyakit sosial atau salah satu krisis eksistensi? beberapa fasilitas umum seperti halte, bangku di pinggir jalan atau dinding bangunan sudah tercemari oleh coretan nakal warga Malang. Bahkan kalau kita ingat beberapa waktu silam, sekelompok warga yang tergabung dalam Komunitas Peduli Malang pernah menggruduk sebuah kontrakan didaerah Pondok harapan Indah karena kelakuannya yang senang memberi tanda pada fasilitas umum maupun fasilitas pribadi dengan simbol gambarnya.

Berbincang tentang kegiatan ilegal bernama Vandalisme ini sebenarnya juga masih ada dua pendapat yang berbeda. Pendapat pertama apapun bentuk gambarnya bila itu dilakukan tanpa ijin maka  bisa dikatakan pula sebagi tindak perusakan. Nah pendapat kedua berkata, aksi grafiti ataupun mural ini adalah bentuk ekspresi dan kadang aspirasi karena terkadang gambar- gambar tersebut tak jarang juga memiliki maksud dan tujuan untuk menyampaikan sesuatu atau mengkritik kebijakan yang ada.

Tak jarang aktivitas ilegal ini juga memberikan warna keindahan urban art di setiap goresannya, namun bukan rahasia pula aktivitas ini terkadang hanya merusak suasanan indahnya kota, karena hanya dilakukan dengan asal-asalan tak mementingkan estetika sama sekali.

Walau dibuat dengan kesungguhan dan penuh estetika kegiatan coret Kota ini ternyata masih tak luput dari cibiran warga Malang. Yang dipermasalahkan kini bukan coretannya tapi tempat mereka menjadikan bangunan sebagai kanvasnya. Beberapa warga Malang ini melihat para bomber (istilah untuk seniman grafitii) cenderung ngawur memilih bangunan, contohnya bangunan seperti Bioskop Merdeka dan Bioskop Kelud yang memiliki nilai budaya dan sejarah dinodai dengan cat semprot oleh para seniman jalanan ini.

Kali ini redaksi Lingkar Malang tak akan membela salah satu pihak mana yang benar atau salah. Karena pastinya setiap pendapat di artikel inipun juga diikuti dengan alasan dan dasar yang kuat. Hanyalah ini adalah kondisi yang terjadi di Kota Malang Nawak Lingkar Malang ingin berdiri di sisi yang sebelah mana? Itulah pilihannya